Kamis, 14 April 2016

laporan paktikum mengenal opt gulma

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN TENTANG MENGENAL OPT GULMA


NAMA             : NOVIA ERINTA HUTABARAT
NIM                 : 1504060011
JURUSAN        : AGROTEKNOLOGI
DOSEN P.A     : IR.ANTONIUS S.S NDIWA,MP

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2016








BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
  Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki,alang-alang dan kirinyuh.
  Gulma adalah sebagai tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki tumbuh pada areal pertanaman. Gulma secara langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Pengenalan suatu jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya, dan bentuk pertumbuhanya. Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gilma rerumputan (grasses), teki-tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf).
  Disini akan lebih dijelaskan secara merinci mengenai opt gulma dan bagaimana cara pengendaliannya.

1.2  TUJUAN
Untuk mengenal opt gulma






BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 TEMPAT DAN WAKTU
       Ruang B1 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG / 14:00 – SELESAI

2.2 ALAT DAN BAHAN
      ALAT    : 1.Alat tulis menulis (pulpen,buku)
                       2.Camera
     BAHAN   1.Sample gulma (rumput teki,alang-alang dan kirinyuh)


2.3 CARA KERJA
1.   Asisten pratikum membagi dalam beberapa kelompok.
2.   Mengamati morfologi gulma.
3.   Menggambar hasil pengamatan.
4.   Membuat laporan sementara.
5.   Membuat laporan tetap.






BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 HASIL (GAMBAR DAN KETERANGAN)
GAMBAR MANUAL
GAMBAR YANG DIAMATI
KETERANGAN

(www.manfaat.co.id)

Alang-alang, ilalang atau lalang (Imperata cylindrica Raeusch.) ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian.

(www.agrobisnisinfo.com)


Rumput teki merupakan rumput semu menahun, tingginya 10-95 cm
Batang rumputnya berbentuk segitiga (truangularis) dan tajam
Daunnya berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal batang
Akar dengan pelepah daunnya tertutup tanah, helaian daun berbentuk pita bersilang sejajar, permukaan atas berwarna hijau mengilat dengan panjang daun 10-30 cm dan lebar 3-6 cm.
memiliki allelophat yang mampu membunuh tumbuhan lainnya

(pokdakangriyatirtalb.blogspot.com)

C. odorata dikenal dengan nama “Kirinyuh”. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Asteraceae/Composite, berdaun oval dan bergerigi pada bagian tepi, serta berbunga pada musim kemarau, serentak selama 3-4 minggu (Prawiradiputra, 1985). Tumbuhan ini dapat tumbuh pada ketinggian 1.000-2.800 m dari permukaan laut, tetapi di Indonesia banyak ditemukan di dataran rendah (0-500 m dpl) seperti di perkebunan karet, kelapa sawit, kelapa, dan jambu mete serta padang penggembalaan. Sifatnya yang tidak tahan naungan, membuat tumbuhan ini tumbuh subur dengan adanya sinar matahari yang cukup (FAO, 2006)







3.2 PEMBAHASAN
 A. ALANG-ALANG
      Alang-alang, ilalang atau lalang (Imperata cylindrica Raeusch.) ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama daerah seperti alalang, halalang (Bjn, Min.), lalang (Mly., Md., Bl.), eurih (Sd.), rih (Bat.), jih (Gayo), re (Sas., Sumbawa), rii, kii, ki (Flores), rie (Tanimbar), reya (Sulsel), eri, weri, weli (Ambon dan Seram), kusu-kusu (Menado, Ternate dan Tidore), nguusu (Halmahera), wusu, wutsu (Sumba) dan lain-lain.Nama ilmiahnya adalah Imperata cylindrica, dan ditempatkan dalam anak suku Panicoideae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bladygrass, cogongrass, speargrass, silver-spike atau secara umum disebut satintail, mengacu pada malai bunganya yang berambut putih halus. Orang Belanda menamainya snijgras, karena sisi daunnya yang tajam meluka.
       Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur. Berlawanan dengan anggapan umum, alang-alang tidak suka tumbuh di tanah yang miskin, gersang atau berbatu-batu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering. Di tanah-tanah yang becek atau terendam, atau yang senantiasa ternaungi, alang-alang pun tak mau tumbuh. Gulma ini dengan segera menguasai lahan bekas hutan yang rusak dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan dan lain-lain. Di tempat-tempat semacam itu alang-alang dapat tumbuh dominan dan menutupi areal yang luas. Alang-alang menyebar alami mulai dari India hingga ke Asia timur, Asia Tenggara, Mikronesia dan Australia. Kini alang-alang juga ditemukan di Asia utara, Eropa, Afrika, Amerika dan di beberapa kepulauan. Namun karena sifatnya yang invasif tersebut, di banyak tempat alang-alang sering dianggap sebagai gulma yang sangat merepotkan.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:   Plantae
Divisi:         Magnoliophyta
Kelas:         Liliopsida
Ordo:         Poales
Famili:        Poaceae
Genus:        Imperata
Spesies:      I. cylindrical
1. Metode Mulsa (Blokir Matahari dan Air).
Dengan dilakukan percobaan metode mulsa sebagai penutup tanah yang dapat menghalangi tanah dari sinar matahari langsung, tetesan langsung air hujan atau penguapan . Metode mulsa merupakan metode yang dianggap paling murah, dan mudah . Pada areal tanaman alang-alang yang telah dibabat dengan penutupan mulsa selama 3 bulan dan 4 bulan, menunjukkan hasil yang optimal . Penutupan selama periode 3 atau 4 bulan rhizoma dan gulma lainnya sudah mati hingga ke dalam tanah . Keuntungan lain dari metode mulsa adalah tanah menjadi gembur, mudah diolah dan subur .
Inilah caranya :
Membuat lubang tanah di daerah yang ditumbuhi alang-alang , dengan ukuran 1 x 1 x 1 meter, Lubang yang satu dengan yang lain berjarak 8 - 10 meter.
Pada setiap lubang yang kita gali, ditanami dengan pohon peneduh yang rindang dan cepat besar; ini dimaksudkan agar jika pohon peneduh sudah besar bisa meneduhi alang-alang. ((Tanpa sinar matahari secara langsung alang-alang akan kurus, kering dan mati.) Daun-daun pohon peneduh yang jatuh berguguran memenuhi alang-alang yang mengering, bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
Akar alang-alang yang batangnya sudah mengering (mati) digali/dicabuti, kemudian dikumpulkan, dijemur dan dibakar.
Setelah alang-alang mati, dahan/ranting pohon peneduh dipotong agar tanah mendapat sinar matahari yang cukup.
Kalau tanah sudah dapat cukup matahari, maka bisa diolah dan ditanami dengan jenis tanaman yang menghasilkan.

B.RUMPUT TEKI
         Kelompok ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segitiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllingia), dan Scirpus maritimus.
Selain menekan gulma berdaun lebar, mulsa teki juga secara nyata menekan pertumbuhan kedelai. Berdasarkan indikasi tersebut, diduga mulsa teki berpotensi alelopati terhadap tumbuhan berdaun lebar. Dugaan adanya potensi alelopati juga terjadi pada mulsa jerami, namun pada mulsa jerami golongan gulma yang tertekan adalah gulma rumpu
 Kelompok teki – tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan – bulan.
GEJALA
1.Rumput teki
Mengganggu perakaran, menambah kompetisi penyeraapan nutrisi pada tanaman atau adanya persaingan antara gulma degan tanaman budidaya dlam mengambil unsur hara dan air dari dalam tanah, penerimaan cahaya untuk proses fotosintesis,air , dan ruang.
PENGENDALIAN
-                    Pencabutan dengan tangan
-                    Pengolahan tanah
C. KIRINYUH
Morfologi krinyuh (Chromolaena odorata)
               Frimbristylist milliacea merupakan tumbuhan setahun, tumbuh berumpun, dengan tinggi 20- 60 cm. Batangnya ramping, tidak berbulu-bulu, bersegi empat, dan tumbuh tegak. Daunnya terdapat di bagian pangkal, bentuk bergaris, menyebar lateral, tepi luar tipis, panjang sampai 40 cm. Bunganya berkarang dan bercabang banyak. Anak bulir kecil dan banyak sekali, warna cokelat dengan punggung berwarna hijau,bentuk bola sampai jorong, dengan ukuran 2 - 5 mm x 1,5 – 2 mm. Buahnya berwarna kuning pucat atau hampir putih, bentuk bulat telur terbalik. Biasanya terdapat di tempat-tempat basah, berlumpur sampai semi basah, umumnya terdapat pada lahan sawah.
       Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Ordo : PoalesFamili : Cyperiaceae Genus : Fimbristylis Spesies : Fimbristylis miliacea.
     Secara umum, tumbuhan ini menyandang status sebagai gulma atau tumbuhan pengganggu, yang merupakan kompetitor tanaman budidaya, terutama dalam hal penyerapan air dan unsur hara.tumbuhan ini merupakan gulma yang sangat merugikan karena: (1) dapat mengurangi kapasitas tampung padang penggembalaan, (2) dapat menyebabkan keracunan, bahkan mungkin sekali kematian ternak, (3) menimbulkan persaingan dengan rumput pakan, sehingga mengurangi produktivitas padang rumput, dan (4) dapat menimbulkan bahaya kebakaran terutama pada musim kemarau. Selain itu, gulma ini juga diketahui dapat menjadi tempat persembunyian bagi serangga yang merugikan, antara lain dari ordo Hemiptera dan Diptera.
     Melihat cukup seriusnya dampak buruk yang ditimbulkan dari keberadaan gulma ini, maka pada tahun 1993 hingga pertengahan 1994, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) bekerjasama dengan Australia Centre for International Agricultural Research (ACIAR) mengintroduksi lalat puru Procecidochares connexa dari Tucuman, Argentina, yang merupakan musuh alami C. odorata. P. connexa meletakkan telur pada pucuk muda C. odorata, kemudian larva yang menetas segera masuk ke dalam jaringan pucuk untuk membuat puru. Larva berkembang dan memupa di dalam puru, satu puru dapat berisi beberapa larva masing-masing dalam ruang yang berbeda. Lalat dewasa keluar dari puru dengan membuat lubang keluar. Terbentuknya puru diharapkan dapat menekan pertumbuhan dan pembentukan biji C. odorata (Mudita 2012).
    Sekilas cara pengendalian dengan lalat ini cukup berhasil, namun penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh seorang mahasiswa jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Undana menunjukan bahwa lalat puru ini dapat menghambat pertumbuhan vegetatif C. odorata, tetapi tidak mampu menghambat pertumbuhan generatif. Jumlah cabang yang tumbuh di atas puru justru menjadi lebih banyak sehingga biji yang dihasilkan gulma menjadi lebih banyak. Populasi lalat puru juga sangat menurun pada musim kemarau karena untuk bertelur diperlukan pucuk muda sedangkan pada musim kemarau sebagian besar tegakan C. odorata mengering dan dibakar.Sampai saat ini, pengendalian kirinyuh yang paling baik adalah dengan kombinasi pembabatan dan herbisida.Pengendalian cara hayati juga baik namun memerlukan waktu yang lama, sedangkan dengan herbisida saja akan terlalu mahal dan menimbulkan efek residu/pencemaran lingkungan. Jika kita menilik lebih dalam, dibalik sisi merugikannya tersebut, gulma ini juga ternyata memiliki sejumlah potensi besar yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dari pengolahan gulma ini dapat dihasilkan pupuk organik, biopestisida, obat, dan herbisida. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan, sekaligus dapat mengurangi dampak buruk keberadaannya.









   BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang telah lama menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, atau spesies baru yang telah berkembang sejak timbulnya pertanian. Setiap kali manusia berusaha mengubah salah satu atau seluruh faktor lingkungan alami, seperti pembukaan hutan, pengolahan tanah, pengairan dan sebagainya, maka selalu akan berhadapan dengan masalah baru karena tumbuhnya tumbuhan yang tidak diinginkan yang merupakan salah satu akibat dari perubahan tersebut.
1)  gulma adalah tumbuhan yang tidak sesuai dengan tempatnya;
2)  gulma adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki;
3)  gulma adalah tumbuhan yang bernilai negatif;
4)  gulma adalah tumbuhan yang bersaing dengan manusia dalam memanfaatkan lahan;
5)  gulma adalah tumbuhan yang tumbuh secara spontan;
6)  gulma adalah tumbuhan yang tidak berguna (belum diketahui kegunaannya);
7)  gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki pada waktu tertentu sehingga kita berusaha memberantas atau mengendalikannya

4.2 DAFTAR PUSTAKA
ebho, Kasianus. 2001.Pemantauan Perkembangan Dan Penyebaran
Cecidochares connexa Pada Dua Titik Pelepasan Di WilayahTimor Barat
Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana; Kupang

www. pokdakangriyatirtalb.blogspot.com