LAPORAN
PRAKTIKUM
DASAR-DASAR
PERLINDUNGAN TANAMAN TENTANG MENGENAL OPT GULMA

NAMA : NOVIA ERINTA HUTABARAT
NIM : 1504060011
JURUSAN : AGROTEKNOLOGI
DOSEN P.A : IR.ANTONIUS S.S NDIWA,MP
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
NUSA CENDANA
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak
diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh
tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis.
Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian.
Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman
produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu
spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma.
Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak
mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur
jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya
merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal
sebagai gulma utama, seperti teki,alang-alang dan kirinyuh.
Gulma adalah sebagai tumbuhan yang tumbuh
pada areal yang tidak dikehendaki tumbuh pada areal pertanaman. Gulma secara
langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Pengenalan suatu
jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya,
dan bentuk pertumbuhanya. Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gilma rerumputan
(grasses), teki-tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf).
Disini akan lebih dijelaskan secara merinci
mengenai opt gulma dan bagaimana cara pengendaliannya.
1.2 TUJUAN
Untuk
mengenal opt gulma
BAB
II
METODE
PRAKTIKUM
2.1
TEMPAT DAN WAKTU
Ruang B1 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS
NUSA CENDANA KUPANG / 14:00 – SELESAI
2.2
ALAT DAN BAHAN
ALAT
: 1.Alat tulis menulis (pulpen,buku)
2.Camera
BAHAN
1.Sample gulma (rumput teki,alang-alang dan kirinyuh)
2.3
CARA KERJA
1. Asisten pratikum membagi dalam beberapa
kelompok.
2. Mengamati morfologi gulma.
3. Menggambar hasil pengamatan.
4. Membuat laporan sementara.
5. Membuat laporan tetap.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1
HASIL (GAMBAR DAN KETERANGAN)
|
GAMBAR MANUAL
|
GAMBAR YANG DIAMATI
|
KETERANGAN
|
![]()
(www.manfaat.co.id)
|
![]() |
Alang-alang,
ilalang atau lalang (Imperata cylindrica Raeusch.) ialah sejenis rumput
berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian.
|
![]()
(www.agrobisnisinfo.com)
|
![]() |
Rumput
teki merupakan rumput semu menahun, tingginya 10-95 cm
Batang
rumputnya berbentuk segitiga (truangularis) dan tajam
Daunnya
berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal batang
Akar
dengan pelepah daunnya tertutup tanah, helaian daun berbentuk pita bersilang
sejajar, permukaan atas berwarna hijau mengilat dengan panjang daun 10-30 cm
dan lebar 3-6 cm.
memiliki
allelophat yang mampu membunuh tumbuhan lainnya
|
![]()
(pokdakangriyatirtalb.blogspot.com)
|
![]() |
C.
odorata dikenal dengan nama “Kirinyuh”. Tumbuhan ini termasuk dalam famili
Asteraceae/Composite, berdaun oval dan bergerigi pada bagian tepi, serta
berbunga pada musim kemarau, serentak selama 3-4 minggu (Prawiradiputra,
1985). Tumbuhan ini dapat tumbuh pada ketinggian 1.000-2.800 m dari permukaan
laut, tetapi di Indonesia banyak ditemukan di dataran rendah (0-500 m dpl)
seperti di perkebunan karet, kelapa sawit, kelapa, dan jambu mete serta
padang penggembalaan. Sifatnya yang tidak tahan naungan, membuat tumbuhan ini
tumbuh subur dengan adanya sinar matahari yang cukup (FAO, 2006)
|
3.2
PEMBAHASAN
A. ALANG-ALANG
Alang-alang, ilalang atau lalang
(Imperata cylindrica Raeusch.) ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap
menjadi gulma di lahan pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama
daerah seperti alalang, halalang (Bjn, Min.), lalang (Mly., Md., Bl.), eurih
(Sd.), rih (Bat.), jih (Gayo), re (Sas., Sumbawa), rii, kii, ki (Flores), rie
(Tanimbar), reya (Sulsel), eri, weri, weli (Ambon dan Seram), kusu-kusu
(Menado, Ternate dan Tidore), nguusu (Halmahera), wusu, wutsu (Sumba) dan
lain-lain.Nama ilmiahnya adalah Imperata cylindrica, dan ditempatkan dalam anak
suku Panicoideae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bladygrass, cogongrass, speargrass,
silver-spike atau secara umum disebut satintail, mengacu pada malai bunganya
yang berambut putih halus. Orang Belanda menamainya snijgras, karena sisi
daunnya yang tajam meluka.
Alang-alang dapat berbiak dengan
cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin, atau melalui
rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur. Berlawanan dengan anggapan
umum, alang-alang tidak suka tumbuh di tanah yang miskin, gersang atau
berbatu-batu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak
disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering. Di
tanah-tanah yang becek atau terendam, atau yang senantiasa ternaungi,
alang-alang pun tak mau tumbuh. Gulma ini dengan segera menguasai lahan bekas
hutan yang rusak dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan
dan lain-lain. Di tempat-tempat semacam itu alang-alang dapat tumbuh dominan
dan menutupi areal yang luas. Alang-alang menyebar alami mulai
dari India hingga ke Asia timur, Asia Tenggara, Mikronesia dan Australia. Kini
alang-alang juga ditemukan di Asia utara, Eropa, Afrika, Amerika dan di
beberapa kepulauan. Namun karena sifatnya yang invasif tersebut, di banyak
tempat alang-alang sering dianggap sebagai gulma yang sangat merepotkan.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Genus: Imperata
Spesies: I. cylindrical
1.
Metode Mulsa (Blokir Matahari dan Air).
Dengan
dilakukan percobaan metode mulsa sebagai penutup tanah yang dapat menghalangi
tanah dari sinar matahari langsung, tetesan langsung air hujan atau penguapan .
Metode mulsa merupakan metode yang dianggap paling murah, dan mudah . Pada
areal tanaman alang-alang yang telah dibabat dengan penutupan mulsa selama 3
bulan dan 4 bulan, menunjukkan hasil yang optimal . Penutupan selama periode 3
atau 4 bulan rhizoma dan gulma lainnya sudah mati hingga ke dalam tanah .
Keuntungan lain dari metode mulsa adalah tanah menjadi gembur, mudah diolah dan
subur .
Inilah
caranya :
Membuat
lubang tanah di daerah yang ditumbuhi alang-alang , dengan ukuran 1 x 1 x 1
meter, Lubang yang satu dengan yang lain berjarak 8 - 10 meter.
Pada
setiap lubang yang kita gali, ditanami dengan pohon peneduh yang rindang dan
cepat besar; ini dimaksudkan agar jika pohon peneduh sudah besar bisa meneduhi
alang-alang. ((Tanpa sinar matahari secara langsung alang-alang akan kurus,
kering dan mati.) Daun-daun pohon peneduh yang jatuh berguguran memenuhi
alang-alang yang mengering, bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
Akar
alang-alang yang batangnya sudah mengering (mati) digali/dicabuti, kemudian
dikumpulkan, dijemur dan dibakar.
Setelah
alang-alang mati, dahan/ranting pohon peneduh dipotong agar tanah mendapat
sinar matahari yang cukup.
Kalau
tanah sudah dapat cukup matahari, maka bisa diolah dan ditanami dengan jenis
tanaman yang menghasilkan.
B.RUMPUT
TEKI
Kelompok ini memiliki daya tahan luar
biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah
yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur
fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal
pertanian secara cepat. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk
segitiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang
batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh
tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian)
yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus
kyllingia), dan Scirpus maritimus.
Selain menekan gulma
berdaun lebar, mulsa teki juga secara nyata menekan pertumbuhan kedelai.
Berdasarkan indikasi tersebut, diduga mulsa teki berpotensi alelopati terhadap
tumbuhan berdaun lebar. Dugaan adanya potensi alelopati juga terjadi pada mulsa
jerami, namun pada mulsa jerami golongan gulma yang tertekan adalah gulma rumpu
Kelompok teki – tekian memiliki daya tahan
luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di dalam
tanah yang mampu bertahan berbulan – bulan.
GEJALA
1.Rumput
teki
Mengganggu
perakaran, menambah kompetisi penyeraapan nutrisi pada tanaman atau adanya
persaingan antara gulma degan tanaman budidaya dlam mengambil unsur hara dan
air dari dalam tanah, penerimaan cahaya untuk proses fotosintesis,air , dan
ruang.
PENGENDALIAN
- Pencabutan dengan tangan
- Pengolahan tanah
C.
KIRINYUH
Morfologi
krinyuh (Chromolaena odorata)
Frimbristylist milliacea
merupakan tumbuhan setahun, tumbuh berumpun, dengan tinggi 20- 60 cm. Batangnya
ramping, tidak berbulu-bulu, bersegi empat, dan tumbuh tegak. Daunnya terdapat
di bagian pangkal, bentuk bergaris, menyebar lateral, tepi luar tipis, panjang
sampai 40 cm. Bunganya berkarang dan bercabang banyak. Anak bulir kecil dan
banyak sekali, warna cokelat dengan punggung berwarna hijau,bentuk bola sampai
jorong, dengan ukuran 2 - 5 mm x 1,5 – 2 mm. Buahnya berwarna kuning pucat atau
hampir putih, bentuk bulat telur terbalik. Biasanya terdapat di tempat-tempat
basah, berlumpur sampai semi basah, umumnya terdapat pada lahan sawah.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
(Tumbuhan) Ordo : PoalesFamili : Cyperiaceae Genus : Fimbristylis Spesies :
Fimbristylis miliacea.
Secara umum, tumbuhan ini menyandang
status sebagai gulma atau tumbuhan pengganggu, yang merupakan kompetitor
tanaman budidaya, terutama dalam hal penyerapan air dan unsur hara.tumbuhan ini
merupakan gulma yang sangat merugikan karena: (1) dapat mengurangi kapasitas
tampung padang penggembalaan, (2) dapat menyebabkan keracunan, bahkan mungkin
sekali kematian ternak, (3) menimbulkan persaingan dengan rumput pakan,
sehingga mengurangi produktivitas padang rumput, dan (4) dapat menimbulkan
bahaya kebakaran terutama pada musim kemarau. Selain itu, gulma ini juga
diketahui dapat menjadi tempat persembunyian bagi serangga yang merugikan,
antara lain dari ordo Hemiptera dan Diptera.
Melihat cukup seriusnya dampak buruk yang
ditimbulkan dari keberadaan gulma ini, maka pada tahun 1993 hingga pertengahan
1994, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) bekerjasama dengan Australia Centre
for International Agricultural Research (ACIAR) mengintroduksi lalat puru
Procecidochares connexa dari Tucuman, Argentina, yang merupakan musuh alami C.
odorata. P. connexa meletakkan telur pada pucuk muda C. odorata, kemudian larva
yang menetas segera masuk ke dalam jaringan pucuk untuk membuat puru. Larva
berkembang dan memupa di dalam puru, satu puru dapat berisi beberapa larva
masing-masing dalam ruang yang berbeda. Lalat dewasa keluar dari puru dengan
membuat lubang keluar. Terbentuknya puru diharapkan dapat menekan pertumbuhan
dan pembentukan biji C. odorata (Mudita 2012).
Sekilas cara pengendalian dengan lalat ini
cukup berhasil, namun penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh seorang
mahasiswa jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Undana
menunjukan bahwa lalat puru ini dapat menghambat pertumbuhan vegetatif C.
odorata, tetapi tidak mampu menghambat pertumbuhan generatif. Jumlah cabang
yang tumbuh di atas puru justru menjadi lebih banyak sehingga biji yang
dihasilkan gulma menjadi lebih banyak. Populasi lalat puru juga sangat menurun
pada musim kemarau karena untuk bertelur diperlukan pucuk muda sedangkan pada
musim kemarau sebagian besar tegakan C. odorata mengering dan dibakar.Sampai
saat ini, pengendalian kirinyuh yang paling baik adalah dengan kombinasi
pembabatan dan herbisida.Pengendalian cara hayati juga baik namun memerlukan
waktu yang lama, sedangkan dengan herbisida saja akan terlalu mahal dan
menimbulkan efek residu/pencemaran lingkungan. Jika kita
menilik lebih dalam, dibalik sisi merugikannya tersebut, gulma ini juga
ternyata memiliki sejumlah potensi besar yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Dari pengolahan gulma ini dapat dihasilkan pupuk organik, biopestisida, obat,
dan herbisida. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan, sekaligus dapat
mengurangi dampak buruk keberadaannya.
BAB IV
PENUTUP
4.1
KESIMPULAN
Gulma
merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang telah lama menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan, atau spesies baru yang telah berkembang sejak
timbulnya pertanian. Setiap kali manusia berusaha mengubah salah satu atau
seluruh faktor lingkungan alami, seperti pembukaan hutan, pengolahan tanah,
pengairan dan sebagainya, maka selalu akan berhadapan dengan masalah baru
karena tumbuhnya tumbuhan yang tidak diinginkan yang merupakan salah satu
akibat dari perubahan tersebut.
1) gulma adalah tumbuhan yang tidak sesuai
dengan tempatnya;
2) gulma adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki;
3) gulma adalah tumbuhan yang bernilai negatif;
4) gulma adalah tumbuhan yang bersaing dengan
manusia dalam memanfaatkan lahan;
5) gulma adalah tumbuhan yang tumbuh secara
spontan;
6) gulma adalah tumbuhan yang tidak berguna
(belum diketahui kegunaannya);
7) gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di tempat
yang tidak dikehendaki pada waktu tertentu sehingga kita berusaha memberantas
atau mengendalikannya
4.2
DAFTAR PUSTAKA
ebho,
Kasianus. 2001.Pemantauan Perkembangan Dan Penyebaran
Cecidochares
connexa Pada Dua Titik Pelepasan Di WilayahTimor Barat
Fakultas
Pertanian Universitas Nusa Cendana; Kupang
www.
pokdakangriyatirtalb.blogspot.com





