Kamis, 31 Maret 2016

hama dan penyakit pada tanaman jagung

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JAGUNG(Zae mays L)



Kelompok I :
                           
                                    NAMA                   :  Novia Erinta Hutabarat
                                    NIM                        : 1504060011
                                    JURUSAN             :  Agroteknologi
                                    MATA KULIAH   :  Dasar-dasar perlindungan tanaman


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
                                                                            2016


BAB I
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
BAB II
2.1 Tempat dan Waktu
2.2 Alat dan Bahan
2.3 Cara Kerja
BAB III
3.1 Hasil {gambar dan keterangan}
3.2 Pembahasan
BAB IV
4.1 Penutup
4.2 Kesimpulan

4.3 Daftar pustaka


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELEKANG
   Tanaman jagung yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Zea mays L., adalah salah satu jenis tanaman biji-bijian yang menurut sejarahnya berasal dari Amerika. Orang-orang Eropa yang datang ke Amerika membawa benih jagung tersebut ke negaranya. Melalui Eropa tanaman jagung terus menyebar ke Asia dan Afrika. Baru sekitar abad ke-16 tanaman jagung ini oleh orang Portugis dibawa ke Pakistan, Tiongkok dan daerah-daerah lainnya di Asia termasuk Indonesia (Wirawan dan wahab, 2007).
   Penyakit bulai atau downy mildew pada jagung sejak lama dirasa menimbulkan kerugian yang sangat besar, sehingga banyak dikenal antara para petani. Penyakit bulai adalah penyakit terpenting pada pertanian jagung di Indonesia. Kerugian karena penyakit ini dapat mencapai kerugian hingga 90%,sehingga penyakit ini menyebabkan penanaman jagung mengandung resiko yang tinggi. Penyakit bulai adalah penyakit yang paling merusak pada tanaman jagung di Indonesia  maupun di negara lain di dunia. Di Indonesia dilaporkan penyebaran penyakit bulai meliputi 25 provinsi. Walaupun ada 5 species Peronosclerospora penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung telah dilaporkan hanya ada 2 species yang telah dilaporkan sampai saat ini di Indonesia yaitu P. maydis dan P. philippinensis .
    Hama jagung dapat menyerang pada seluruh fase pertumbuhan, baik vegetatif maupun generatif. Hama yang biasa ditemukan pada pertanaman jagung adalah ulat tanah (Agrotis ipsilon), lalat bibit (Atherigona sp.), penggerek batang (Ostrinia furnacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), pemakan daun (Spodopterta litura), kutu daun (Aphis sp.), dan belalang (Locusta sp.) (Subandi et al.,2004). Serangan beberapa hama pada tanaman jagung dapat merugikan akibat pengurangan hasil apabila tidak dikendalikan. Pengamatan hama perlu dilakukan di pertanaman untuk mengetahui hama-hama apa saja yang ada di lapangan. Hal ini perlu untuk memudahkan pengendalian hama tersebut di lapangan apabila terjadi serangan hama.
    





1.2 TUJUAN
       Untuk mengenal hama dan penyakit pada tanaman jagung

BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 TEMPAT DAN WAKTU
 Ruang B1 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG / 14:00 – SELESAI

2.2 ALAT DAN BAHAN
       A .ALAT    : 1.Alat tulis menulis (pulpen,buku)
                  2.Camera
       B.BAHAN : 1.Sample daun jagung

2.3 CARA KERJA
1.      Menyiapkan bahan praktikum oleh asisten.
2.      Mengamati dan menggambar bahan yang terserang oleh hama belalang dan bulai (daun jagung yang terserang oleh hama).
3.      Membuat laporan sementara dan di tanda tangani oleh asisten praktikum.
4.      Membuat laporan tetap (dikumpulkan tanggal 30 maret 2016).






BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 HASIL (GAMBAR,KETERANGAN)                                
                                        Penyakit pada tanaman jagung                         
                                                   Penyakit bulai                  
                                             
(sumber : infohamapenyakittumbuhan.blogspot.com)                         (hasil kamera)

   Keterangan : Gejala Terlihat adanya warna putih sampai kekuningan pada permukaan daun, diikuti oleh garis-garis klorotik, daun berbentuk kaku, tegak dan menyempit, bentuk tongkol tidak normal. Ciri lainnya, pada pagi hari di sisi bawah daun terdapat lapisan berbulu halus berwarna putih yang terdiri atas konidiofor dan konidium jamur.

Hama belalang ang menyerang                                                         gejala pada daun
Daun jagung menjadi bergerigi                                                     ujung daun bergerigi

                                                      
(sumber:mahasiswa.ung.ac.id)                                                           (hasil kamera)
              Belalang
 (sumber:groupcbp.blogspot.com)                                                    

  Gejala: Larva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak

3.1 PEMBAHASAN
  A. Penyakit bulai pada tanaman jagung
    Jagung merupakan tanaman semusim, termasuk jenis rumput-rumputan dengan akar dapat tumbuh baik pada kondisi tanah yang memungkinkan untuk pertumbuhan tanaman. Siklus hidup tanaman ini diselesaikan dalam waktu 80-150 hari. Pertumbuhan batangnya tidak hanya memanjang tetapi juga terjadi pertumbuhan ke samping atau membesar dan dapat mencapai diameter 3-4 cm. Batang tanaman jagung beruas-ruas diselimuti oleh pelepah-pelepah daun berwarna hijau. Besar kecilnya daun dan panjang pendeknya daun tanaman jagung bisa dipengaruhi oleh letak daun terhadap batang tanaman. Daun tanaman yang pertama kali dibentuk berukuran kecil. Daun jagung berupa helai tunggal meruncing di bagian ujung, berbentuk lurus, berwarna hijau, serta bertulang daun sejajar. Bakal biji jagung yang siap diserbuki ditandai dengan rambut memanjang dan keluar melalui sela-sela antara tongkol dan klobot. Pada setiap bakal bijinya selalu terdapat tangkai putik berupa rambut. Akar tanaman jagung tergolong akar serabut, pada tanaman dewasa muncul akar adventif pada buku bagian bawah untuk membantu tumbuh tegaknya tanaman.
Klasifikasi Tanaman Jagung
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Family : Graminae (Poaceae)
Subfamily : Pasicoideae
Genus : Zea
Species : Zea mays

  Jagung (Zea mays) merupakan salah satu bahan makanan pokok dunia setelah gandum dan padi. Di Indonesia, jagung merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Jagung juga sebagai sumber karbohidrat paling memenuhi syarat sebagai pengganti beras, karena kalori jagung hampir sama dengan beras dan mempunyai protein yang banyak.

Kandungan Gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:
Kalori : 355,00 Kalori
Protein : 9,20 gr
Lemak : 3,90 gr
Karbohidrat : 73,70 gr
Kalsium : 10,00 mg
Fosfor : 256,00 mg
Ferrum : 2,40 mg
Vitamin A : 510 SI
Vitamin B1 : 0,38 mg
Air : 12,00 gr
   Penyakit Tanaman Jagung  
  Di  Indonesia  penyakit  tanaman  jagung  yang  sering  kita  temui  antara  lain  :  Penyakit
bulai (Downy  mildew) ,  Penyakit  bercak  daun (Leaf  bligh),  Penyakit  karat (Rust),  Penyakit
gosong  bengkak (Corn  smut/boil  smut),  dan  Penyakit  busuk  tongkol  dan  busuk  biji  yang
memiliki serta gejala dan tanda sendiri – sendiri. 
a)  Penyakit bulai (Downy mildew)  Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku,
pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora
cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun
berubah  warna  dari  bagian  pangkal  daun,  tongkol  berubah  bentuk  dan  isi;  (3)  pada
tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
b)  Penyakit  bercak  daun (Leaf  bligh)  Gejala:  pada  daun  tampak  bercak  memanjang  dan
teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari
ujung  daun  hingga  ke  pangkal  daun,  semula  bercak  tampak  basah,  kemudian  berubah
warna  menjadi  coklat  kekuning-kuningan,  kemudian  berubah  menjadi  coklat  tua.
Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.
c)  Penyakit  karat (Rust)  Gejala:  pada  tanaman  dewasa,  daun  tua  terdapat  titik-titik  noda
berwarna  merah  kecoklatan  seperti  karat  serta  terdapat  serbuk  berwarna  kuning
kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang.
d)  Penyakit  gosong  bengkak (Corn  smut/boil  smut)  Gejala:  masuknya  cendawan  ini  ke
dalam  biji  pada  tongkol  sehingga  terjadi  pembengkakan  dan  mengeluarkan  kelenjar
(gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar.
e)  Penyakit  busuk  tongkol  dan  busuk  biji  Gejala:  dapat  diketahui  setelah  membuka
pembungkus  tongkol,  biji-biji  jagung  berwarna  merah  jambu  atau  merah  kecoklatan
  kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Gejala
Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik,tampak dengan jelas pada pagi hari. Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun terinfeksi. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dandaun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadimassa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek. Tanaman jagung mengalami periode kritis antara umur 1 minggu hingga 5 minggu, apabila selama periode kritis tersebut tanaman tidak menimbulkan gejala serangan maka tanaman jagung akan tumbuh normal dan bisa menghasilkan tongkol.

Siklus Hidup
 Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidakbegitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tetapi jika inokulum berasal dari spora, daun kotiledon tetap sehat.

Epidemiologi
Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap, dan suhu tertentu, P. maydis di bawah suhu 24oC, P. philippinensis 21-26oC, P. sorghi 24-26oC, P. sacchari 20-25oC, S. rayssiae 20-22oC,S. graminicola 17-34oC, dan S. macrospora 24-28oC.

Tanaman Inang
 Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari patogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa (oat)Digitaria spp. (jampang merah), Euchlaena spp. (jagung liar), Heteropogon contartus, Panicum spp.(millet, jewawut), Setaria spp.(pokem/seperti gandum), Saccharum spp.(tebu), Sorghum spp., Pennisetum spp.(rumput gajah), dan Zea mays (jagung).

Pengendalian
 Oleh karena itu dalam pengembangan jagung di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit bulai perlu mendapat perhatian serius dengan berpegang pada 5 komponen pengendalian yaitu : 1) Periode bebas tanaman jagung, 2). Tanam serempak, 3). Eradikasi tanaman terserang bulai, 4). Varietas tahan bulai, 5). Fungisida berbahan aktif metalaksil (Bisa menggunakan Demorf berbahan aktif Dimethomorp).
Komponen pengendalian penyakit bulai yang umum dilakukan selama ini adalah perlakuan benih dengan fungisida saromil atau ridomil yang berbahan aktif metalaksil, karena praktis dan mudah dilakukan, bahkan petani tidak perlu melakukan tindakan apapun, hanya menanam benih jagung yang sudah diberi perlakuan fungisida. Selain pengendalian dengan fungisida, varietas tahan bulai sebenarnya sudah lama diteliti, namun tidak banyak yang memanfaatkannya karena adanya fungisida barbahan aktif metalaksil yang selama ini efektif mengendalikan penyakit bulai melalui perlakukan biji.

 Dalam penerapan varietas tahan bulai untuk pengendalian penyakit bulai, pemerintah Indonesia telah membuat aturan, dalam pelepasan varietas jagung harus memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai. Hal ini amat penting karena sekalipun telah dilepas, apabila tidak tahan bulai tidak akan tersebar luas karena bisa gagal panen akibat penyakit bulai yang telah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, dan juga baru-baru ini diketahui telah terjadinya resistensiP. maydis terhadap fungisida metalaksil di Kabupaten Bengkayang,
Terjadinya outbreak atau wabah penyakit bulai di beberapa daerah penghasil jagung seperti di Bengkayang (Kalbar), di Kediri dan Jombang (Jawa Timur), dan Medan (Sumatera Utara) yang sekalipun diberi perlakuan dengan fungisida berbahan aktif metalaksil, merupakan indikasi telah terjadinya perubahan ketahanan yang meningkat dari Peronosclerospora penyebab penyakit bulai. Adanya resistensi P. maydis terhadap metalaksil yang telah terbukti terjadi di Kalbar, merupakan ancaman bagi pengembangan jagung di Indonesia, hal ini disebabkan fungisida metalaksil tidak efektif lagi digunakan dalam pengendalian penyakit bulai. Oleh karenanya komponen pengendalian bulai lainnya perlu digalakkan.

Pengembangan varietas tahan bulai merupakan langkah yang perlu dilakukan untuk pengembangan tanaman jagung di Indonesia. Ketahanan terhadap penyakit bulai dipengaruhi oleh banyak gen (polygenic) dan bersifat aditif. Dengan varietas jagung tahan bulai petani akan lebih untung karena resiko gagal panen kecil dan biaya perawatan lebih murah karena penggunaan fungisida lebih sedikit.
B. Hama pada tanaman jagung
  Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis) Belalang yang menyerang tanaman jagung ada dua jenis, yaituLocusta sp., dan Oxya chinensis. Seperti halnya ulat tanah, hama jenis ini menyerang tanaman jagung saat masih muda, dengan cara memakan tunas jagung muda (baru tumbuh). Hama belalang pada tanaman jagung merupakan hama migran, dimana tingkat kerusakannya tergantung dari jumlah populasi serta tipe tanaman yang diserang.

 Gejala Serangan:
Hama ini menyerang terutama di bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan tanaman jagung sekaligus sampai tulang–tulang daunnya.

 Pengendalian hama belalang pada budidaya jagung secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.











BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

1.      1 Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari
   keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan
  Afrika.
2.      Jagung (Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia
3.      agar mengetahui hama dan penyakit pada tanaman jagung dan cara pengendaliannya.
4.      gagal panen akibat serangan hama dan penyakit harus ditangani secara tepat agar mengurai   kerugian.

DAFTAR PUSTAKA

- (Wirawan dan wahab, 2007).      
-  (Subandi et al.,2004)
- infohamapenyakittanaman.blogspot.com
- mahasiswa.ung.ac.id
- groupcbp.blogspot.com


Rabu, 30 Maret 2016

                                                                    MAKALAH
         “SUMBER BAHAN PANGAN ALTERNATIF NON BERAS DI SUMATERA UTARA”
                                                            KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah ini yang berjudul “Sumber Bahan Pangan Alterntif Non Beras di Sumatera Utara”. Disini saya akan menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi dibidang pangan terutama menyangkut perubahan pola konsumsi pangan di Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan sulitnya merubah altitude masyarakat untuk tidak hanya mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok dan masih terbatasnya jenis-jenispangan alternative non beras. Dipihak lain tidak adanya keseragaman menyangkut data dan informasi yang diperoleh dari lapangan serta kurangnya koordinasi antara stakeholders didaerah,guna menjawab berbagai permasalahan perubahan konsumsi pangan di masa mendatang .
“Belum makan kalau belum makan nasi.” Adalah uangkapan sebagian besar masyarakat Indonesia yang telah terdistorsi pola makan dan mindset-nya. Distorsi ini terjadi pada generasi tahun ’70-an dan anak-anaknya sebagai akibat dari kesalahan informasi dan persepsi tentang aneka produk lokal sebagai sumber karbohidrat. (Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Isma’il, M.Sc. -Wali Kota Teladan Tingkat Nasional 2013 untuk kategori Diversifikasi Pangan

       Rakyat Indonesia sebagian besar makanan pokoknya beras, yaitu hampir 90%. Semakin merosotnya lahan-lahan produktif untuk pertanian, karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap petani, komponen-komponen produksi beras harganya terus naik, kurangnya subsidi pemerintah terhadap petani, ini menjadi pemicu alih fungsi lahan pertanian. Sedangkan kebutuhan beras setiap tahun terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka munculah keinginan untuk mencari sumber-sumber pangan pengganti beras yang harganya lebih terjangkau dari pada harga beras yang terus meroket. Kurangnya teknologi dalam bidang pertanian yang menyebabkan produksi beras merosot, yang mengakibatkan negara Indonesia harus mengimport beras meskipun hanya 0,36% dari total kebutuhan beras nasional. Berikut adalah makan – makanan pokok pengganti beras :
A. PISANG
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat perlu dicari bahan pangan lain sebagai sumber karbohidrat alternatif. Pisang sebagai salah satu komoditas yang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif karena memiliki kandungan karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi. Kandungan gizi yang terdapat dalam setiap 100 gr buah pisang terdiri dari kalori 115 kalori, protein 1,2 gr, lemak 0,4 gr, karbohidrat 26,8 gr, serat 0,4 gr, kalsium 11 mg, posfor 43 mg, besi 1,2 mg, vitamin B 0,1 mg, vitamin C 2 mg, dan air 70,7 gr. Dengan komposisi tersebut, pisang dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif pengganti. Disamping itu pisang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan komoditas lain yaitu : 1. Pisang dapat diusahakan pada berbagai type agroekosistem yang tersebar di seluruh nusantara.2. Permintaan pasar cukup besar dan produksinya tersedia merata sepanjang tahun.
 3. Memiliki bermacam varietas dengan berbagai kecocokan penggunaan.
 4. Usahatani pisang mampu memberikan hasil waktu yang relatif singkat (1 – 2 tahun).
Disamping itu juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan dan konservasi lahan karena tanaman pisang sangat baik dalam menahan air. Pisang sebagai salah satu komoditas unggulan saat ini masih tetap merupakan kontributor utama (34,5%) terhadap produksi buah nasional. Sejak tahun 2002 – 2006 produksi pisang cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata 4,3% pertahun. Produksi pisang pada tahun 2002 sebesar 4.384.384 ton naik menjadi 5.321.538 ton pada tahun 2006 (angka prognosa) dengan produktivitas dari 58,65 ton/ha menjadi 49,45 ton/ha. 
Dengan cakupan sebaran sentar produksi yang sangat luas, maka lahan yang belum dimanfaatkan dan dapat digunakan sebagai areal penumbuhan sentra produksi pisang masih tersedia sangat luas. Tujuannya, yaitu; mengembangkan pisang sebagai sumber karbohidrat alternatif bagi keluarga dalam rangka diversifikasi pangan disamping sebagai sumber vitamin, terutama vitamin A dan C, mineral, kalsium dan zat mikro lainnya yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. 

B.  SUKUN
Sukun (Artocarpus altilis), ditengah kelangkaan pangan dewasa ini, maka buah sukun dapat merupakan alternatif sumber karbohidrat, disamping itu salah satu komoditas buah yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi karena dapat dijual dalam bentuk segar maupun olahan sebagai alternatif pangan pengganti beras. Pada daerah tertentu umumnya tanaman sukun ditanam pada lahan-lahan pekarangan rumah dengan pemilikan pohon antara 1-5 pohon per keluarga. 
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia, maka permintaan terhadap pangan terutama beras, terus meningkat. Padahal sebagaimana dimaklumi upaya peningkatan produksi beras di tanah air tidak mudah untuk dilakukan karena sudah mengalami kejenuhan. Oleh karena itu, perlu adanya terobosan mencari bahan pangan alternatif pengganti beras. Salah satu bahan pangan yang direkomendasikan sebagai subsitusi beras adalah buah sukun karena mempunyai kandungan karbohidrat yang cukup tinggi. 
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa dari setiap 100 gram buah sukun segar mengandung 27,12 gram karbohidrat, 108 kalori, 17 mg kalsium, 29 mg vitamin-C, dan 490 mg kalium. Sedangkan dari setiap 100 gram sukun tua yang diolah menjadi tepung bisa menghasilkan energi sebanyak 302 kalori dan karbohidrat 78,9 gram. Dari kandungan kalori dan karbohidrat yang dihasilkan mendekati kandungan yang dimiliki beras yaitu 360 kalori dengan karbohidrat 78,9 gram. . 
Prospek agribisnis sukun masa mendatang sangat menjanjikan karena tanaman sukun tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus dan dapat tumbuh subur pada kondisi ekologi yang beragam. Tanaman sukun dapat tumbuh pada pada dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl, tumbuh baik pada tanah liat berpasir. Tanaman sukun berproduksi setelah berumur 3–5 tahun setelah ditanam, dan dapat dipanen dua kali setahun. Panen pertama disebut dengan panen raya terjadi pada musim hujan yang jatuh pada bulan Januari-Februari, sedangkan panen kedua atau panen susulan pada musim kemarau jatuh pada bulan Juni-Juli. 
Sejauh ini sukun lebih banyak dikonsumsi dalam bentuk pangan goreng-gorengan (keripik) namun, melihat potensi dan peluang pengembangan sukun yang demikian besar serta banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dari tanaman dan buah sukun, maka sudah saatnya dicanangkan gerakan pemanfaatan buah sukun sebagai pengganti beras. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan mengembangkan teknologi pengolahan pangan dari sukun, sehingga dapat menyajikan buah sukun dan hasil olahannya dalam menu makanan sehari – hari. 


C.  UBI JALAR
Makanan pokok untuk masyarakat idealnya bersumber dari bahan baku lokal, agar biaya transportasinya dapat ditekan. Saat ini, masyarakat Indonesia yang hidup di daerah tropis dimana gandum sulit bisa tumbuh, menjadi pemakan mie dari gandum terbesar setelah RRC. Sebenarnya begitu banyak jenis umbi-umbian lainnya selain gandum yang bisa tumbuh dengan baik di Indonesia. Ubijalar merupakan salah satu dari 20 jenis pangan yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Ubi jalar bisa menjadi salah satu alternatif untuk pengganti beras sebagai sumber karbohidrat.
Pilihan untuk mensosialisasikan ubi jalar, bukan pilihan tanpa alasan. (1) mempunyai produktivitas yang tinggi, sehingga menguntungkan untuk diusahakan. (2) mengandung zat gizi yang berpengaruh positif pada kesehatan (prebiotik, serat makanan dan antioksidan), serta (3) potensi penggunaannya cukup luas dan cocok untuk sumber alternatif pengganti beras. Produktivitas ubi jalar cukup tinggi dibandingkan dengan beras maupun ubi kayu. Ubi jalar dengan masa panen 4 bulan dapat berproduksi lebih dari 30 ton/ha, tergantung dari bibit, sifat tanah dan pemeliharaannya. Walaupun saat ini rata-rata produktivitas ubi jalar nasional baru mencapai 12 ton/ ha. Tetapi masih lebih besar, jika kita bandingkan dengan produktivitas gabah (+/-4.5 ton/ha) atau ubi kayu (+/-8 ton/ha), padahal masa panen lebih lama dari masa panen ubi jalar.
Penelitian mengenai ubi jalar pun kini semakin banyak dan berkembang, karena mempunyai kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Karbohidrat yang dikandung ubi jalar masuk dalam klasifikasi Low Glycemix Index (LGI, 54), artinya komoditi ini sangat cocok.

D.  JAGUNG
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras (Purwanto,2006). Senada dengan hal tersebut Zubachtirodin et al (2006) juga menambahkan dalam perekonomian nasional, jagung penyumbang terbesar kedua setelah padi dalam subsektor tanaman pangan. Jagung juga merupakan tanaman yang relatif lebih tahan terhadap kekurangan air daripada padi sehingga penanamannya dapat dilakukan setelah penanaman padi, yaitu pada musim kemarau. 
Makanan pokok alternantif warga Sumatera Utara, Madura, Nusa Tenggara bahkan juga warga Amerika Serikat ini juga kaya akan gizi. Tak heran bonggol berambut merah ini juga diminati anak-anak. Kandungan gizi dalam tiap biji jagung adalah: energi 150 kal, protein 1,6 g, lemak 0,6 g, kalsium 11 mg, dan karbohidrat 11,40 g. 
Jagung memiliki potensi besar sebagai alternatif makanan pokok selain beras. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan sumberdaya terutama lahan irigasi yang menjadi permasalahan pada produksi beras, relatif tidak terjadi pada jagung. Jagung dapat ditanam setelah masa penanaman padi yaitu pada musim kemarau sehingga produksi makanan pokok tetap berlangsung. Selain itu bila dilihat dari kandungan nutrisinya, jagung juga merupakan sumber karbohidrat yang baik.
Diversifikasi makanan pokok dengan jagung sebagai alternatif selain beras, harus diikuti dengan perancangan olahan jagung untuk meningkatkan penerimaan konsumen. Produk olahan yang sekiranya dapat mencakup beberapa aspek diatas adalah beras jagung.
Nasi jagung telah lama dikenal oleh masyarakat namun karena proses preparasi dari bentuk jagung pipil hingga nasi yang lama, meliputi proses penumbukan berulang serta penjemuran, maka penerimaannya sebagai bahan pangan pokok lebih rendah daripada nasi biasa. Rasa nasi jagung, serperti halnya nasi dari beras, dipengaruhi oleh kandungan amilosa. Makin rendah kandungan amilosa, rasa nasi jagung menjadi semakin pulen. Pati jagung normal mengandung 74-76% amilopektin dan 24-26% amilosa. Dengan kadar amilosa tersebut diharapkan nasi yang terbentuk dari beras jagung masih bersifat pulen dan tidak keras saat dingin karena kadar amilosa yang tidak terlalu tinggi.
Pengolahan jagung menjadi beras jagung menciptakan alternatif makanan pokok selain beras dengan sifat organoleptis yang hampir sama, rasa yang netral, dan waktu preparasi yang sama dengan nasi dari beras. Didukung dengan keunggulan kandungan nutrisi serta keinginan masyarakat untuk mencoba mengkonsumsi makanan yang baru, beras jagung memiliki potensi yang baik sebagai alternatif makanan pokok selain beras. Dengan demikian diharapkan beras jagung dapat mensukseskan program diversifikasi pangan pemerintah dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap beras sehingga menciptakan swasembada pangan dan ketahanan pangan dapat terwujud.

E.  KETELA POHON
Nasi Uleng sebagai Makanan Pokok; Gaplek: Pilihan Pengganti Beras yang EkonomisNasi uleng merupakan salah satu bentuk olahan tiwul dan biasa dikonsumsi di Wonogiri. Bahan dasar tiwul adalah gaplek atau ketela pohon yang dikeringkan setelah kulitnya dihilangkan. Nasi uleng harganya relatif murah sehingga membiasakan mengkonsumsi nasi uleng berarti penghematan.Gaplek adalah makanan pokok pengganti nasi.terbuat dari ketela pohon yang diolah secara tradisional sampai terbentuk butiran-butiran kecil seperti beras, dan disimpan sebagai cadangan paceklik.


Selasa, 29 Maret 2016

proses fertilisasi


pengenalan penyakit penting pada tanaman padi

“PENGENALAN PENYAKIT PENTING PADA TANAMAN PADI”

BAB I
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
BAB II
2.1 Tempat dan Waktu
2.2 Alat dan Bahan
2.3 Cara Kerja
BAB III
3.1 Hasil {gambar dan keterangan}
3.2 Pembahasan
BAB IV
4.1 Penutup
4.2 Kesimpulan
4.3 Daftar pustaka
4.4 Lampiran




LATAR BELEKANG

Timbulnya gejala penyakit disebabkan karena adanya interaksi antara tanaman inang dan patogen. Penamaan gejala penyakit dapat didasarkan kepada tanda penyakit, perubahan bentuk, tanaman, pertumbuhan tanaman dan sebagainya.
Sebagai akibat terganggunya pertumbuhan tanaman oleh penyakit, maka akan terjadi perubahan pada tanaman dalam: Bentuk, ukuran, warna, tekstur dan lain-
lain.

TUJUAN
“UNTUK MENGENAL PENYAKIT PENTING PADA TANAMAN PADI

TEMPAT DAN WAKTU
Ruang B1 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG / 14:00 – SELESAI

ALAT DAN BAHAN
ALAT    :  1.Plastik sampel
                  2.Cawan Petridis
                  3.Alat tulis menulis (pulpen,buku)
                  4.Camera
BAHAN : 1.Sample penyakit


CARA KERJA
1.     Asisten pratikum membagi dalam beberapa kelompok
2.     Mengamati gejala penyakit
3.     Menggambar hasil pengamatan
4.     Membuat laporan sementara
5.     Membuat laporan tetap dalam waktu 1 minggu (kumpul tanggal 21-03-2016)

HASIL (GAMBAR,KETERANGAN)
           Jenis Penyakit Blast
{sumber: duniatanicom.blogspot.com}
     Penyakit Bercak Daun Coklat
{sumber: sardianto-aet12.blogspot.com}

Hasil gambar dari foto yang di amati.

Jenis daun pada penyakit blast
Jenis penyakit daun bercak coklat





PEMBAHASAN
Gejala penyakit penting pada tanaman padi disebabkan oleh cendawan Pyricularia oryzae (fase aseksual) atau Magnaporthe grisea (fase sempurna).  dapat muncul pada daun, batang, malai, bulir padi. Bercak pada daun (leaf blas) berbentuk belah ketupat, awalnya hijau keabu-abuan kemudian putih dan akhirnya abu-abu dengan bagian tepi berwarna coklat atau coklat kemerahan. Bentuk dan warna bercak bervariasi tergantung keadaan lingkungan, umur bercak, ketahanan padi.
Penyakit Blas (Pyricularia oryzae)
Penyakit Blas (Pyricularia oryzae)
a. Nama Umum   : Penyakit Blas
b. Nama Ilmiah   : Pyricularia oryzae
c. Klasifikasi
        – Kingdom   : Myceteae
        – Divisi         : Amastigomycota
        – Subdivisi   : Deuteromycetina
        – Kelas         : Deuteromycetes
        – Ordo          : Moniliales
        – Famili        : Moniliaceae
        – Genus        : Pyricularia
        – Spesies      : Pyricularia oryzae
Penyakit pada daun coklat disebabkan oleh cendawan Helminthosporium oryzae atau Drechslera oryzae (Cochliobolus miyabeanus). Konidia H. Oryzae berwarna coklat, bersekat 6-17, berbentuk silindris, agak melengkung, dan bagian tengahnya agak melebar. Konidia ini di bentuk pada tangkai sederhana yang tumbuh pada bercak. Konidia ini dapat di sebarkan oleh angin dan dapat terbawa benih. Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah adanya bercak berwarna coklat tua, berbentuk oval sampai bulat, berukuran sebesar biji wijen, pada permukaan daun, pada pelepah atau pada gabah. Gajala khas penyakit ini adalah adanya bercak coklat pada daun berbentuk oval yang merata di permukaan daun dengan titik tengah berwarna abu-abu atau putih. Titik abu-abu di tengah bercak merupakan gejala khas penyakit bercak daun coklat di lapang. Bercak yang masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. 
PENUTUP
Demikian hasil laporan yang saya buat  mengenai “pengenalan penyakit penting pada tanaman padi” .jika ada kesalahan dalam tugas laporan pratikum yang saya buat kiranya sudi memaafkan ataupun harap mekluminya.saya ucapkan terimakasih

KESIMPULAN

1.     Ada 2 cara pengendalian gulma pada tanaman padi yaitu langsung dan tidak langsung.
2.     3 macam organisme yang dapat menyerang tanaman padi yaitu hama,penyakit dan gulma.semua aktivitas tumbuhnya mengakibatkan penurunan produktivitas pada tanaman padi.
3.     Penyakit yang timbul terdapat pada bercak daun,daun berkarat dan kerdil,seperti contoh pada gambar diatas.

Daftar pustaka