Kamis, 14 April 2016

laporan paktikum mengenal opt gulma

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN TENTANG MENGENAL OPT GULMA


NAMA             : NOVIA ERINTA HUTABARAT
NIM                 : 1504060011
JURUSAN        : AGROTEKNOLOGI
DOSEN P.A     : IR.ANTONIUS S.S NDIWA,MP

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2016








BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
  Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki,alang-alang dan kirinyuh.
  Gulma adalah sebagai tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki tumbuh pada areal pertanaman. Gulma secara langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Pengenalan suatu jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya, dan bentuk pertumbuhanya. Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gilma rerumputan (grasses), teki-tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf).
  Disini akan lebih dijelaskan secara merinci mengenai opt gulma dan bagaimana cara pengendaliannya.

1.2  TUJUAN
Untuk mengenal opt gulma






BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 TEMPAT DAN WAKTU
       Ruang B1 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG / 14:00 – SELESAI

2.2 ALAT DAN BAHAN
      ALAT    : 1.Alat tulis menulis (pulpen,buku)
                       2.Camera
     BAHAN   1.Sample gulma (rumput teki,alang-alang dan kirinyuh)


2.3 CARA KERJA
1.   Asisten pratikum membagi dalam beberapa kelompok.
2.   Mengamati morfologi gulma.
3.   Menggambar hasil pengamatan.
4.   Membuat laporan sementara.
5.   Membuat laporan tetap.






BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 HASIL (GAMBAR DAN KETERANGAN)
GAMBAR MANUAL
GAMBAR YANG DIAMATI
KETERANGAN

(www.manfaat.co.id)

Alang-alang, ilalang atau lalang (Imperata cylindrica Raeusch.) ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian.

(www.agrobisnisinfo.com)


Rumput teki merupakan rumput semu menahun, tingginya 10-95 cm
Batang rumputnya berbentuk segitiga (truangularis) dan tajam
Daunnya berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal batang
Akar dengan pelepah daunnya tertutup tanah, helaian daun berbentuk pita bersilang sejajar, permukaan atas berwarna hijau mengilat dengan panjang daun 10-30 cm dan lebar 3-6 cm.
memiliki allelophat yang mampu membunuh tumbuhan lainnya

(pokdakangriyatirtalb.blogspot.com)

C. odorata dikenal dengan nama “Kirinyuh”. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Asteraceae/Composite, berdaun oval dan bergerigi pada bagian tepi, serta berbunga pada musim kemarau, serentak selama 3-4 minggu (Prawiradiputra, 1985). Tumbuhan ini dapat tumbuh pada ketinggian 1.000-2.800 m dari permukaan laut, tetapi di Indonesia banyak ditemukan di dataran rendah (0-500 m dpl) seperti di perkebunan karet, kelapa sawit, kelapa, dan jambu mete serta padang penggembalaan. Sifatnya yang tidak tahan naungan, membuat tumbuhan ini tumbuh subur dengan adanya sinar matahari yang cukup (FAO, 2006)







3.2 PEMBAHASAN
 A. ALANG-ALANG
      Alang-alang, ilalang atau lalang (Imperata cylindrica Raeusch.) ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama daerah seperti alalang, halalang (Bjn, Min.), lalang (Mly., Md., Bl.), eurih (Sd.), rih (Bat.), jih (Gayo), re (Sas., Sumbawa), rii, kii, ki (Flores), rie (Tanimbar), reya (Sulsel), eri, weri, weli (Ambon dan Seram), kusu-kusu (Menado, Ternate dan Tidore), nguusu (Halmahera), wusu, wutsu (Sumba) dan lain-lain.Nama ilmiahnya adalah Imperata cylindrica, dan ditempatkan dalam anak suku Panicoideae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bladygrass, cogongrass, speargrass, silver-spike atau secara umum disebut satintail, mengacu pada malai bunganya yang berambut putih halus. Orang Belanda menamainya snijgras, karena sisi daunnya yang tajam meluka.
       Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur. Berlawanan dengan anggapan umum, alang-alang tidak suka tumbuh di tanah yang miskin, gersang atau berbatu-batu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak disinari matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering. Di tanah-tanah yang becek atau terendam, atau yang senantiasa ternaungi, alang-alang pun tak mau tumbuh. Gulma ini dengan segera menguasai lahan bekas hutan yang rusak dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan dan lain-lain. Di tempat-tempat semacam itu alang-alang dapat tumbuh dominan dan menutupi areal yang luas. Alang-alang menyebar alami mulai dari India hingga ke Asia timur, Asia Tenggara, Mikronesia dan Australia. Kini alang-alang juga ditemukan di Asia utara, Eropa, Afrika, Amerika dan di beberapa kepulauan. Namun karena sifatnya yang invasif tersebut, di banyak tempat alang-alang sering dianggap sebagai gulma yang sangat merepotkan.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:   Plantae
Divisi:         Magnoliophyta
Kelas:         Liliopsida
Ordo:         Poales
Famili:        Poaceae
Genus:        Imperata
Spesies:      I. cylindrical
1. Metode Mulsa (Blokir Matahari dan Air).
Dengan dilakukan percobaan metode mulsa sebagai penutup tanah yang dapat menghalangi tanah dari sinar matahari langsung, tetesan langsung air hujan atau penguapan . Metode mulsa merupakan metode yang dianggap paling murah, dan mudah . Pada areal tanaman alang-alang yang telah dibabat dengan penutupan mulsa selama 3 bulan dan 4 bulan, menunjukkan hasil yang optimal . Penutupan selama periode 3 atau 4 bulan rhizoma dan gulma lainnya sudah mati hingga ke dalam tanah . Keuntungan lain dari metode mulsa adalah tanah menjadi gembur, mudah diolah dan subur .
Inilah caranya :
Membuat lubang tanah di daerah yang ditumbuhi alang-alang , dengan ukuran 1 x 1 x 1 meter, Lubang yang satu dengan yang lain berjarak 8 - 10 meter.
Pada setiap lubang yang kita gali, ditanami dengan pohon peneduh yang rindang dan cepat besar; ini dimaksudkan agar jika pohon peneduh sudah besar bisa meneduhi alang-alang. ((Tanpa sinar matahari secara langsung alang-alang akan kurus, kering dan mati.) Daun-daun pohon peneduh yang jatuh berguguran memenuhi alang-alang yang mengering, bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
Akar alang-alang yang batangnya sudah mengering (mati) digali/dicabuti, kemudian dikumpulkan, dijemur dan dibakar.
Setelah alang-alang mati, dahan/ranting pohon peneduh dipotong agar tanah mendapat sinar matahari yang cukup.
Kalau tanah sudah dapat cukup matahari, maka bisa diolah dan ditanami dengan jenis tanaman yang menghasilkan.

B.RUMPUT TEKI
         Kelompok ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segitiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllingia), dan Scirpus maritimus.
Selain menekan gulma berdaun lebar, mulsa teki juga secara nyata menekan pertumbuhan kedelai. Berdasarkan indikasi tersebut, diduga mulsa teki berpotensi alelopati terhadap tumbuhan berdaun lebar. Dugaan adanya potensi alelopati juga terjadi pada mulsa jerami, namun pada mulsa jerami golongan gulma yang tertekan adalah gulma rumpu
 Kelompok teki – tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbu batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan – bulan.
GEJALA
1.Rumput teki
Mengganggu perakaran, menambah kompetisi penyeraapan nutrisi pada tanaman atau adanya persaingan antara gulma degan tanaman budidaya dlam mengambil unsur hara dan air dari dalam tanah, penerimaan cahaya untuk proses fotosintesis,air , dan ruang.
PENGENDALIAN
-                    Pencabutan dengan tangan
-                    Pengolahan tanah
C. KIRINYUH
Morfologi krinyuh (Chromolaena odorata)
               Frimbristylist milliacea merupakan tumbuhan setahun, tumbuh berumpun, dengan tinggi 20- 60 cm. Batangnya ramping, tidak berbulu-bulu, bersegi empat, dan tumbuh tegak. Daunnya terdapat di bagian pangkal, bentuk bergaris, menyebar lateral, tepi luar tipis, panjang sampai 40 cm. Bunganya berkarang dan bercabang banyak. Anak bulir kecil dan banyak sekali, warna cokelat dengan punggung berwarna hijau,bentuk bola sampai jorong, dengan ukuran 2 - 5 mm x 1,5 – 2 mm. Buahnya berwarna kuning pucat atau hampir putih, bentuk bulat telur terbalik. Biasanya terdapat di tempat-tempat basah, berlumpur sampai semi basah, umumnya terdapat pada lahan sawah.
       Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Ordo : PoalesFamili : Cyperiaceae Genus : Fimbristylis Spesies : Fimbristylis miliacea.
     Secara umum, tumbuhan ini menyandang status sebagai gulma atau tumbuhan pengganggu, yang merupakan kompetitor tanaman budidaya, terutama dalam hal penyerapan air dan unsur hara.tumbuhan ini merupakan gulma yang sangat merugikan karena: (1) dapat mengurangi kapasitas tampung padang penggembalaan, (2) dapat menyebabkan keracunan, bahkan mungkin sekali kematian ternak, (3) menimbulkan persaingan dengan rumput pakan, sehingga mengurangi produktivitas padang rumput, dan (4) dapat menimbulkan bahaya kebakaran terutama pada musim kemarau. Selain itu, gulma ini juga diketahui dapat menjadi tempat persembunyian bagi serangga yang merugikan, antara lain dari ordo Hemiptera dan Diptera.
     Melihat cukup seriusnya dampak buruk yang ditimbulkan dari keberadaan gulma ini, maka pada tahun 1993 hingga pertengahan 1994, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) bekerjasama dengan Australia Centre for International Agricultural Research (ACIAR) mengintroduksi lalat puru Procecidochares connexa dari Tucuman, Argentina, yang merupakan musuh alami C. odorata. P. connexa meletakkan telur pada pucuk muda C. odorata, kemudian larva yang menetas segera masuk ke dalam jaringan pucuk untuk membuat puru. Larva berkembang dan memupa di dalam puru, satu puru dapat berisi beberapa larva masing-masing dalam ruang yang berbeda. Lalat dewasa keluar dari puru dengan membuat lubang keluar. Terbentuknya puru diharapkan dapat menekan pertumbuhan dan pembentukan biji C. odorata (Mudita 2012).
    Sekilas cara pengendalian dengan lalat ini cukup berhasil, namun penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh seorang mahasiswa jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Undana menunjukan bahwa lalat puru ini dapat menghambat pertumbuhan vegetatif C. odorata, tetapi tidak mampu menghambat pertumbuhan generatif. Jumlah cabang yang tumbuh di atas puru justru menjadi lebih banyak sehingga biji yang dihasilkan gulma menjadi lebih banyak. Populasi lalat puru juga sangat menurun pada musim kemarau karena untuk bertelur diperlukan pucuk muda sedangkan pada musim kemarau sebagian besar tegakan C. odorata mengering dan dibakar.Sampai saat ini, pengendalian kirinyuh yang paling baik adalah dengan kombinasi pembabatan dan herbisida.Pengendalian cara hayati juga baik namun memerlukan waktu yang lama, sedangkan dengan herbisida saja akan terlalu mahal dan menimbulkan efek residu/pencemaran lingkungan. Jika kita menilik lebih dalam, dibalik sisi merugikannya tersebut, gulma ini juga ternyata memiliki sejumlah potensi besar yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dari pengolahan gulma ini dapat dihasilkan pupuk organik, biopestisida, obat, dan herbisida. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan, sekaligus dapat mengurangi dampak buruk keberadaannya.









   BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang telah lama menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, atau spesies baru yang telah berkembang sejak timbulnya pertanian. Setiap kali manusia berusaha mengubah salah satu atau seluruh faktor lingkungan alami, seperti pembukaan hutan, pengolahan tanah, pengairan dan sebagainya, maka selalu akan berhadapan dengan masalah baru karena tumbuhnya tumbuhan yang tidak diinginkan yang merupakan salah satu akibat dari perubahan tersebut.
1)  gulma adalah tumbuhan yang tidak sesuai dengan tempatnya;
2)  gulma adalah tumbuhan yang tidak dikehendaki;
3)  gulma adalah tumbuhan yang bernilai negatif;
4)  gulma adalah tumbuhan yang bersaing dengan manusia dalam memanfaatkan lahan;
5)  gulma adalah tumbuhan yang tumbuh secara spontan;
6)  gulma adalah tumbuhan yang tidak berguna (belum diketahui kegunaannya);
7)  gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki pada waktu tertentu sehingga kita berusaha memberantas atau mengendalikannya

4.2 DAFTAR PUSTAKA
ebho, Kasianus. 2001.Pemantauan Perkembangan Dan Penyebaran
Cecidochares connexa Pada Dua Titik Pelepasan Di WilayahTimor Barat
Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana; Kupang

www. pokdakangriyatirtalb.blogspot.com

Kamis, 31 Maret 2016

hama dan penyakit pada tanaman jagung

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JAGUNG(Zae mays L)



Kelompok I :
                           
                                    NAMA                   :  Novia Erinta Hutabarat
                                    NIM                        : 1504060011
                                    JURUSAN             :  Agroteknologi
                                    MATA KULIAH   :  Dasar-dasar perlindungan tanaman


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
                                                                            2016


BAB I
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
BAB II
2.1 Tempat dan Waktu
2.2 Alat dan Bahan
2.3 Cara Kerja
BAB III
3.1 Hasil {gambar dan keterangan}
3.2 Pembahasan
BAB IV
4.1 Penutup
4.2 Kesimpulan

4.3 Daftar pustaka


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELEKANG
   Tanaman jagung yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Zea mays L., adalah salah satu jenis tanaman biji-bijian yang menurut sejarahnya berasal dari Amerika. Orang-orang Eropa yang datang ke Amerika membawa benih jagung tersebut ke negaranya. Melalui Eropa tanaman jagung terus menyebar ke Asia dan Afrika. Baru sekitar abad ke-16 tanaman jagung ini oleh orang Portugis dibawa ke Pakistan, Tiongkok dan daerah-daerah lainnya di Asia termasuk Indonesia (Wirawan dan wahab, 2007).
   Penyakit bulai atau downy mildew pada jagung sejak lama dirasa menimbulkan kerugian yang sangat besar, sehingga banyak dikenal antara para petani. Penyakit bulai adalah penyakit terpenting pada pertanian jagung di Indonesia. Kerugian karena penyakit ini dapat mencapai kerugian hingga 90%,sehingga penyakit ini menyebabkan penanaman jagung mengandung resiko yang tinggi. Penyakit bulai adalah penyakit yang paling merusak pada tanaman jagung di Indonesia  maupun di negara lain di dunia. Di Indonesia dilaporkan penyebaran penyakit bulai meliputi 25 provinsi. Walaupun ada 5 species Peronosclerospora penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung telah dilaporkan hanya ada 2 species yang telah dilaporkan sampai saat ini di Indonesia yaitu P. maydis dan P. philippinensis .
    Hama jagung dapat menyerang pada seluruh fase pertumbuhan, baik vegetatif maupun generatif. Hama yang biasa ditemukan pada pertanaman jagung adalah ulat tanah (Agrotis ipsilon), lalat bibit (Atherigona sp.), penggerek batang (Ostrinia furnacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), pemakan daun (Spodopterta litura), kutu daun (Aphis sp.), dan belalang (Locusta sp.) (Subandi et al.,2004). Serangan beberapa hama pada tanaman jagung dapat merugikan akibat pengurangan hasil apabila tidak dikendalikan. Pengamatan hama perlu dilakukan di pertanaman untuk mengetahui hama-hama apa saja yang ada di lapangan. Hal ini perlu untuk memudahkan pengendalian hama tersebut di lapangan apabila terjadi serangan hama.
    





1.2 TUJUAN
       Untuk mengenal hama dan penyakit pada tanaman jagung

BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 TEMPAT DAN WAKTU
 Ruang B1 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG / 14:00 – SELESAI

2.2 ALAT DAN BAHAN
       A .ALAT    : 1.Alat tulis menulis (pulpen,buku)
                  2.Camera
       B.BAHAN : 1.Sample daun jagung

2.3 CARA KERJA
1.      Menyiapkan bahan praktikum oleh asisten.
2.      Mengamati dan menggambar bahan yang terserang oleh hama belalang dan bulai (daun jagung yang terserang oleh hama).
3.      Membuat laporan sementara dan di tanda tangani oleh asisten praktikum.
4.      Membuat laporan tetap (dikumpulkan tanggal 30 maret 2016).






BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 HASIL (GAMBAR,KETERANGAN)                                
                                        Penyakit pada tanaman jagung                         
                                                   Penyakit bulai                  
                                             
(sumber : infohamapenyakittumbuhan.blogspot.com)                         (hasil kamera)

   Keterangan : Gejala Terlihat adanya warna putih sampai kekuningan pada permukaan daun, diikuti oleh garis-garis klorotik, daun berbentuk kaku, tegak dan menyempit, bentuk tongkol tidak normal. Ciri lainnya, pada pagi hari di sisi bawah daun terdapat lapisan berbulu halus berwarna putih yang terdiri atas konidiofor dan konidium jamur.

Hama belalang ang menyerang                                                         gejala pada daun
Daun jagung menjadi bergerigi                                                     ujung daun bergerigi

                                                      
(sumber:mahasiswa.ung.ac.id)                                                           (hasil kamera)
              Belalang
 (sumber:groupcbp.blogspot.com)                                                    

  Gejala: Larva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak

3.1 PEMBAHASAN
  A. Penyakit bulai pada tanaman jagung
    Jagung merupakan tanaman semusim, termasuk jenis rumput-rumputan dengan akar dapat tumbuh baik pada kondisi tanah yang memungkinkan untuk pertumbuhan tanaman. Siklus hidup tanaman ini diselesaikan dalam waktu 80-150 hari. Pertumbuhan batangnya tidak hanya memanjang tetapi juga terjadi pertumbuhan ke samping atau membesar dan dapat mencapai diameter 3-4 cm. Batang tanaman jagung beruas-ruas diselimuti oleh pelepah-pelepah daun berwarna hijau. Besar kecilnya daun dan panjang pendeknya daun tanaman jagung bisa dipengaruhi oleh letak daun terhadap batang tanaman. Daun tanaman yang pertama kali dibentuk berukuran kecil. Daun jagung berupa helai tunggal meruncing di bagian ujung, berbentuk lurus, berwarna hijau, serta bertulang daun sejajar. Bakal biji jagung yang siap diserbuki ditandai dengan rambut memanjang dan keluar melalui sela-sela antara tongkol dan klobot. Pada setiap bakal bijinya selalu terdapat tangkai putik berupa rambut. Akar tanaman jagung tergolong akar serabut, pada tanaman dewasa muncul akar adventif pada buku bagian bawah untuk membantu tumbuh tegaknya tanaman.
Klasifikasi Tanaman Jagung
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Family : Graminae (Poaceae)
Subfamily : Pasicoideae
Genus : Zea
Species : Zea mays

  Jagung (Zea mays) merupakan salah satu bahan makanan pokok dunia setelah gandum dan padi. Di Indonesia, jagung merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Jagung juga sebagai sumber karbohidrat paling memenuhi syarat sebagai pengganti beras, karena kalori jagung hampir sama dengan beras dan mempunyai protein yang banyak.

Kandungan Gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:
Kalori : 355,00 Kalori
Protein : 9,20 gr
Lemak : 3,90 gr
Karbohidrat : 73,70 gr
Kalsium : 10,00 mg
Fosfor : 256,00 mg
Ferrum : 2,40 mg
Vitamin A : 510 SI
Vitamin B1 : 0,38 mg
Air : 12,00 gr
   Penyakit Tanaman Jagung  
  Di  Indonesia  penyakit  tanaman  jagung  yang  sering  kita  temui  antara  lain  :  Penyakit
bulai (Downy  mildew) ,  Penyakit  bercak  daun (Leaf  bligh),  Penyakit  karat (Rust),  Penyakit
gosong  bengkak (Corn  smut/boil  smut),  dan  Penyakit  busuk  tongkol  dan  busuk  biji  yang
memiliki serta gejala dan tanda sendiri – sendiri. 
a)  Penyakit bulai (Downy mildew)  Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku,
pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora
cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun
berubah  warna  dari  bagian  pangkal  daun,  tongkol  berubah  bentuk  dan  isi;  (3)  pada
tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
b)  Penyakit  bercak  daun (Leaf  bligh)  Gejala:  pada  daun  tampak  bercak  memanjang  dan
teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari
ujung  daun  hingga  ke  pangkal  daun,  semula  bercak  tampak  basah,  kemudian  berubah
warna  menjadi  coklat  kekuning-kuningan,  kemudian  berubah  menjadi  coklat  tua.
Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.
c)  Penyakit  karat (Rust)  Gejala:  pada  tanaman  dewasa,  daun  tua  terdapat  titik-titik  noda
berwarna  merah  kecoklatan  seperti  karat  serta  terdapat  serbuk  berwarna  kuning
kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang.
d)  Penyakit  gosong  bengkak (Corn  smut/boil  smut)  Gejala:  masuknya  cendawan  ini  ke
dalam  biji  pada  tongkol  sehingga  terjadi  pembengkakan  dan  mengeluarkan  kelenjar
(gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar.
e)  Penyakit  busuk  tongkol  dan  busuk  biji  Gejala:  dapat  diketahui  setelah  membuka
pembungkus  tongkol,  biji-biji  jagung  berwarna  merah  jambu  atau  merah  kecoklatan
  kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Gejala
Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik,tampak dengan jelas pada pagi hari. Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun terinfeksi. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dandaun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadimassa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek. Tanaman jagung mengalami periode kritis antara umur 1 minggu hingga 5 minggu, apabila selama periode kritis tersebut tanaman tidak menimbulkan gejala serangan maka tanaman jagung akan tumbuh normal dan bisa menghasilkan tongkol.

Siklus Hidup
 Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidakbegitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tetapi jika inokulum berasal dari spora, daun kotiledon tetap sehat.

Epidemiologi
Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap, dan suhu tertentu, P. maydis di bawah suhu 24oC, P. philippinensis 21-26oC, P. sorghi 24-26oC, P. sacchari 20-25oC, S. rayssiae 20-22oC,S. graminicola 17-34oC, dan S. macrospora 24-28oC.

Tanaman Inang
 Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari patogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa (oat)Digitaria spp. (jampang merah), Euchlaena spp. (jagung liar), Heteropogon contartus, Panicum spp.(millet, jewawut), Setaria spp.(pokem/seperti gandum), Saccharum spp.(tebu), Sorghum spp., Pennisetum spp.(rumput gajah), dan Zea mays (jagung).

Pengendalian
 Oleh karena itu dalam pengembangan jagung di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit bulai perlu mendapat perhatian serius dengan berpegang pada 5 komponen pengendalian yaitu : 1) Periode bebas tanaman jagung, 2). Tanam serempak, 3). Eradikasi tanaman terserang bulai, 4). Varietas tahan bulai, 5). Fungisida berbahan aktif metalaksil (Bisa menggunakan Demorf berbahan aktif Dimethomorp).
Komponen pengendalian penyakit bulai yang umum dilakukan selama ini adalah perlakuan benih dengan fungisida saromil atau ridomil yang berbahan aktif metalaksil, karena praktis dan mudah dilakukan, bahkan petani tidak perlu melakukan tindakan apapun, hanya menanam benih jagung yang sudah diberi perlakuan fungisida. Selain pengendalian dengan fungisida, varietas tahan bulai sebenarnya sudah lama diteliti, namun tidak banyak yang memanfaatkannya karena adanya fungisida barbahan aktif metalaksil yang selama ini efektif mengendalikan penyakit bulai melalui perlakukan biji.

 Dalam penerapan varietas tahan bulai untuk pengendalian penyakit bulai, pemerintah Indonesia telah membuat aturan, dalam pelepasan varietas jagung harus memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai. Hal ini amat penting karena sekalipun telah dilepas, apabila tidak tahan bulai tidak akan tersebar luas karena bisa gagal panen akibat penyakit bulai yang telah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, dan juga baru-baru ini diketahui telah terjadinya resistensiP. maydis terhadap fungisida metalaksil di Kabupaten Bengkayang,
Terjadinya outbreak atau wabah penyakit bulai di beberapa daerah penghasil jagung seperti di Bengkayang (Kalbar), di Kediri dan Jombang (Jawa Timur), dan Medan (Sumatera Utara) yang sekalipun diberi perlakuan dengan fungisida berbahan aktif metalaksil, merupakan indikasi telah terjadinya perubahan ketahanan yang meningkat dari Peronosclerospora penyebab penyakit bulai. Adanya resistensi P. maydis terhadap metalaksil yang telah terbukti terjadi di Kalbar, merupakan ancaman bagi pengembangan jagung di Indonesia, hal ini disebabkan fungisida metalaksil tidak efektif lagi digunakan dalam pengendalian penyakit bulai. Oleh karenanya komponen pengendalian bulai lainnya perlu digalakkan.

Pengembangan varietas tahan bulai merupakan langkah yang perlu dilakukan untuk pengembangan tanaman jagung di Indonesia. Ketahanan terhadap penyakit bulai dipengaruhi oleh banyak gen (polygenic) dan bersifat aditif. Dengan varietas jagung tahan bulai petani akan lebih untung karena resiko gagal panen kecil dan biaya perawatan lebih murah karena penggunaan fungisida lebih sedikit.
B. Hama pada tanaman jagung
  Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis) Belalang yang menyerang tanaman jagung ada dua jenis, yaituLocusta sp., dan Oxya chinensis. Seperti halnya ulat tanah, hama jenis ini menyerang tanaman jagung saat masih muda, dengan cara memakan tunas jagung muda (baru tumbuh). Hama belalang pada tanaman jagung merupakan hama migran, dimana tingkat kerusakannya tergantung dari jumlah populasi serta tipe tanaman yang diserang.

 Gejala Serangan:
Hama ini menyerang terutama di bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan tanaman jagung sekaligus sampai tulang–tulang daunnya.

 Pengendalian hama belalang pada budidaya jagung secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.











BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

1.      1 Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari
   keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan
  Afrika.
2.      Jagung (Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia
3.      agar mengetahui hama dan penyakit pada tanaman jagung dan cara pengendaliannya.
4.      gagal panen akibat serangan hama dan penyakit harus ditangani secara tepat agar mengurai   kerugian.

DAFTAR PUSTAKA

- (Wirawan dan wahab, 2007).      
-  (Subandi et al.,2004)
- infohamapenyakittanaman.blogspot.com
- mahasiswa.ung.ac.id
- groupcbp.blogspot.com