LAPORAN
PRAKTIKUM
DASAR-DASAR
PERLINDUNGAN TANAMAN
HAMA
DAN PENYAKIT PADA TANAMAN JAGUNG(Zae mays L)

Kelompok
I :
NAMA : Novia Erinta Hutabarat
NIM : 1504060011
JURUSAN :
Agroteknologi
MATA
KULIAH : Dasar-dasar perlindungan tanaman
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
NUSA CENDANA
KUPANG
2016BAB I
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
BAB
II
2.1
Tempat dan Waktu
2.2
Alat dan Bahan
2.3
Cara Kerja
BAB
III
3.1
Hasil {gambar dan keterangan}
3.2
Pembahasan
BAB
IV
4.1
Penutup
4.2
Kesimpulan
4.3
Daftar pustaka
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELEKANG
Tanaman
jagung yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Zea mays L., adalah salah satu jenis
tanaman biji-bijian yang menurut sejarahnya berasal dari Amerika. Orang-orang
Eropa yang datang ke Amerika membawa benih jagung tersebut ke negaranya.
Melalui Eropa tanaman jagung terus menyebar ke Asia dan Afrika. Baru sekitar
abad ke-16 tanaman jagung ini oleh orang Portugis dibawa ke Pakistan, Tiongkok
dan daerah-daerah lainnya di Asia termasuk Indonesia (Wirawan dan wahab, 2007).
Penyakit
bulai atau downy mildew pada jagung sejak lama dirasa menimbulkan kerugian yang
sangat besar, sehingga banyak dikenal antara para petani. Penyakit bulai adalah
penyakit terpenting pada pertanian jagung di Indonesia. Kerugian karena
penyakit ini dapat mencapai kerugian hingga 90%,sehingga penyakit ini
menyebabkan penanaman jagung mengandung resiko yang tinggi. Penyakit bulai
adalah penyakit yang paling merusak pada tanaman jagung di Indonesia maupun di negara lain di dunia. Di Indonesia
dilaporkan penyebaran penyakit bulai meliputi 25 provinsi. Walaupun ada 5
species Peronosclerospora penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung telah
dilaporkan hanya ada 2 species yang telah dilaporkan sampai saat ini di
Indonesia yaitu P. maydis dan P. philippinensis .
Hama jagung dapat menyerang pada seluruh fase
pertumbuhan, baik vegetatif maupun generatif. Hama yang biasa ditemukan pada
pertanaman jagung adalah ulat tanah (Agrotis ipsilon), lalat bibit (Atherigona
sp.), penggerek batang (Ostrinia furnacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa
armigera), pemakan daun (Spodopterta litura), kutu daun (Aphis sp.), dan
belalang (Locusta sp.) (Subandi et al.,2004). Serangan beberapa hama pada
tanaman jagung dapat merugikan akibat pengurangan hasil apabila tidak dikendalikan.
Pengamatan hama perlu dilakukan di pertanaman untuk mengetahui hama-hama apa
saja yang ada di lapangan. Hal ini perlu untuk memudahkan pengendalian hama
tersebut di lapangan apabila terjadi serangan hama.
1.2 TUJUAN
Untuk mengenal hama dan penyakit pada
tanaman jagung
BAB
II
METODE
PRAKTIKUM
2.1 TEMPAT DAN WAKTU
Ruang B1
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG / 14:00 – SELESAI
2.2 ALAT DAN BAHAN
A .ALAT :
1.Alat tulis menulis (pulpen,buku)
2.Camera
B.BAHAN
: 1.Sample daun jagung
2.3 CARA KERJA
1. Menyiapkan
bahan praktikum oleh asisten.
2. Mengamati
dan menggambar bahan yang terserang oleh hama belalang dan bulai (daun jagung
yang terserang oleh hama).
3. Membuat
laporan sementara dan di tanda tangani oleh asisten praktikum.
4. Membuat
laporan tetap (dikumpulkan tanggal 30 maret 2016).
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL (GAMBAR,KETERANGAN)
Penyakit
pada tanaman jagung
Penyakit bulai

(sumber
: infohamapenyakittumbuhan.blogspot.com) (hasil kamera)
Keterangan
: Gejala Terlihat adanya warna putih sampai kekuningan pada permukaan daun,
diikuti oleh garis-garis klorotik, daun berbentuk kaku, tegak dan menyempit,
bentuk tongkol tidak normal. Ciri lainnya, pada pagi hari di sisi bawah daun
terdapat lapisan berbulu halus berwarna putih yang terdiri atas konidiofor dan
konidium jamur.
Hama belalang ang menyerang
gejala pada daun
Daun jagung menjadi bergerigi
ujung daun bergerigi

(sumber:mahasiswa.ung.ac.id)
(hasil kamera)
Belalang

(sumber:groupcbp.blogspot.com)
Gejala: Larva O. Furnacalis ini
mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu
lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan atau pangkal
tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak
3.1 PEMBAHASAN
A. Penyakit bulai
pada tanaman jagung
Jagung merupakan tanaman semusim, termasuk
jenis rumput-rumputan dengan akar dapat tumbuh baik pada kondisi tanah yang
memungkinkan untuk pertumbuhan tanaman. Siklus hidup tanaman ini diselesaikan
dalam waktu 80-150 hari. Pertumbuhan batangnya tidak hanya memanjang tetapi
juga terjadi pertumbuhan ke samping atau membesar dan dapat mencapai diameter
3-4 cm. Batang tanaman jagung beruas-ruas diselimuti oleh pelepah-pelepah daun
berwarna hijau. Besar kecilnya daun dan panjang pendeknya daun tanaman jagung
bisa dipengaruhi oleh letak daun terhadap batang tanaman. Daun tanaman yang
pertama kali dibentuk berukuran kecil. Daun jagung berupa helai tunggal
meruncing di bagian ujung, berbentuk lurus, berwarna hijau, serta bertulang
daun sejajar. Bakal biji jagung yang siap diserbuki ditandai dengan rambut
memanjang dan keluar melalui sela-sela antara tongkol dan klobot. Pada setiap
bakal bijinya selalu terdapat tangkai putik berupa rambut. Akar tanaman jagung
tergolong akar serabut, pada tanaman dewasa muncul akar adventif pada buku
bagian bawah untuk membantu tumbuh tegaknya tanaman.
Klasifikasi Tanaman Jagung
Klasifikasi Tanaman Jagung
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Family : Graminae (Poaceae)
Subfamily : Pasicoideae
Genus : Zea
Species : Zea mays
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu bahan makanan pokok dunia setelah gandum dan padi. Di Indonesia, jagung merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Jagung juga sebagai sumber karbohidrat paling memenuhi syarat sebagai pengganti beras, karena kalori jagung hampir sama dengan beras dan mempunyai protein yang banyak.
Kandungan Gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:
Kalori : 355,00 Kalori
Protein : 9,20 gr
Lemak : 3,90 gr
Karbohidrat : 73,70 gr
Kalsium : 10,00 mg
Fosfor : 256,00 mg
Ferrum : 2,40 mg
Vitamin A : 510 SI
Vitamin B1 : 0,38 mg
Air : 12,00 gr
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Family : Graminae (Poaceae)
Subfamily : Pasicoideae
Genus : Zea
Species : Zea mays
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu bahan makanan pokok dunia setelah gandum dan padi. Di Indonesia, jagung merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Jagung juga sebagai sumber karbohidrat paling memenuhi syarat sebagai pengganti beras, karena kalori jagung hampir sama dengan beras dan mempunyai protein yang banyak.
Kandungan Gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:
Kalori : 355,00 Kalori
Protein : 9,20 gr
Lemak : 3,90 gr
Karbohidrat : 73,70 gr
Kalsium : 10,00 mg
Fosfor : 256,00 mg
Ferrum : 2,40 mg
Vitamin A : 510 SI
Vitamin B1 : 0,38 mg
Air : 12,00 gr
Penyakit
Tanaman Jagung
Di Indonesia
penyakit tanaman jagung
yang sering kita
temui antara lain
: Penyakit
bulai (Downy
mildew) , Penyakit bercak
daun (Leaf bligh), Penyakit
karat (Rust), Penyakit
gosong
bengkak (Corn smut/boil smut),
dan Penyakit busuk
tongkol dan busuk
biji yang
memiliki serta gejala dan tanda sendiri –
sendiri.
a) Penyakit
bulai (Downy mildew) Gejala: (1) umur
2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku,
pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi
bawah daun terdapat lapisan spora
cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami
gangguan pertumbuhan, daun
berubah
warna dari bagian
pangkal daun, tongkol
berubah bentuk dan
isi; (3) pada
tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada
daun tua.
b)
Penyakit bercak daun (Leaf
bligh) Gejala: pada
daun tampak bercak
memanjang dan
teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna
coklat, bercak berkembang dan meluas dari
ujung
daun hingga ke
pangkal daun, semula
bercak tampak basah,
kemudian berubah
warna
menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian
berubah menjadi coklat
tua.
Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.
c)
Penyakit karat (Rust) Gejala:
pada tanaman dewasa,
daun tua terdapat
titik-titik noda
berwarna
merah kecoklatan seperti
karat serta terdapat
serbuk berwarna kuning
kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan
memanjang.
d)
Penyakit gosong bengkak (Corn
smut/boil smut) Gejala:
masuknya cendawan ini ke
dalam
biji pada tongkol
sehingga terjadi pembengkakan
dan mengeluarkan kelenjar
(gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus
rusak dan spora tersebar.
e)
Penyakit busuk tongkol
dan busuk biji Gejala: dapat
diketahui setelah membuka
pembungkus
tongkol, biji-biji jagung
berwarna merah jambu
atau merah kecoklatan
kemudian
berubah menjadi warna coklat sawo matang. Gejala
Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik,tampak dengan jelas pada pagi hari. Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun terinfeksi. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dandaun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadimassa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek. Tanaman jagung mengalami periode kritis antara umur 1 minggu hingga 5 minggu, apabila selama periode kritis tersebut tanaman tidak menimbulkan gejala serangan maka tanaman jagung akan tumbuh normal dan bisa menghasilkan tongkol.
Siklus Hidup
Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidakbegitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tetapi jika inokulum berasal dari spora, daun kotiledon tetap sehat.
Epidemiologi
Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap, dan suhu tertentu, P. maydis di bawah suhu 24oC, P. philippinensis 21-26oC, P. sorghi 24-26oC, P. sacchari 20-25oC, S. rayssiae 20-22oC,S. graminicola 17-34oC, dan S. macrospora 24-28oC.
Tanaman Inang
Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari patogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa (oat), Digitaria spp. (jampang merah), Euchlaena spp. (jagung liar), Heteropogon contartus, Panicum spp.(millet, jewawut), Setaria spp.(pokem/seperti gandum), Saccharum spp.(tebu), Sorghum spp., Pennisetum spp.(rumput gajah), dan Zea mays (jagung).
Pengendalian
Oleh karena itu dalam pengembangan jagung di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit bulai perlu mendapat perhatian serius dengan berpegang pada 5 komponen pengendalian yaitu : 1) Periode bebas tanaman jagung, 2). Tanam serempak, 3). Eradikasi tanaman terserang bulai, 4). Varietas tahan bulai, 5). Fungisida berbahan aktif metalaksil (Bisa menggunakan Demorf berbahan aktif Dimethomorp).
Komponen pengendalian penyakit bulai yang umum dilakukan selama ini adalah perlakuan benih dengan fungisida saromil atau ridomil yang berbahan aktif metalaksil, karena praktis dan mudah dilakukan, bahkan petani tidak perlu melakukan tindakan apapun, hanya menanam benih jagung yang sudah diberi perlakuan fungisida. Selain pengendalian dengan fungisida, varietas tahan bulai sebenarnya sudah lama diteliti, namun tidak banyak yang memanfaatkannya karena adanya fungisida barbahan aktif metalaksil yang selama ini efektif mengendalikan penyakit bulai melalui perlakukan biji.
Dalam penerapan varietas tahan bulai untuk pengendalian penyakit bulai, pemerintah Indonesia telah membuat aturan, dalam pelepasan varietas jagung harus memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai. Hal ini amat penting karena sekalipun telah dilepas, apabila tidak tahan bulai tidak akan tersebar luas karena bisa gagal panen akibat penyakit bulai yang telah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, dan juga baru-baru ini diketahui telah terjadinya resistensiP. maydis terhadap fungisida metalaksil di Kabupaten Bengkayang,
Terjadinya outbreak atau wabah penyakit bulai di beberapa daerah penghasil jagung seperti di Bengkayang (Kalbar), di Kediri dan Jombang (Jawa Timur), dan Medan (Sumatera Utara) yang sekalipun diberi perlakuan dengan fungisida berbahan aktif metalaksil, merupakan indikasi telah terjadinya perubahan ketahanan yang meningkat dari Peronosclerospora penyebab penyakit bulai. Adanya resistensi P. maydis terhadap metalaksil yang telah terbukti terjadi di Kalbar, merupakan ancaman bagi pengembangan jagung di Indonesia, hal ini disebabkan fungisida metalaksil tidak efektif lagi digunakan dalam pengendalian penyakit bulai. Oleh karenanya komponen pengendalian bulai lainnya perlu digalakkan.
Pengembangan varietas tahan bulai merupakan langkah yang perlu dilakukan untuk pengembangan tanaman jagung di Indonesia. Ketahanan terhadap penyakit bulai dipengaruhi oleh banyak gen (polygenic) dan bersifat aditif. Dengan varietas jagung tahan bulai petani akan lebih untung karena resiko gagal panen kecil dan biaya perawatan lebih murah karena penggunaan fungisida lebih sedikit.
Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik,tampak dengan jelas pada pagi hari. Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun terinfeksi. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dandaun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadimassa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek. Tanaman jagung mengalami periode kritis antara umur 1 minggu hingga 5 minggu, apabila selama periode kritis tersebut tanaman tidak menimbulkan gejala serangan maka tanaman jagung akan tumbuh normal dan bisa menghasilkan tongkol.
Siklus Hidup
Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidakbegitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tetapi jika inokulum berasal dari spora, daun kotiledon tetap sehat.
Epidemiologi
Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap, dan suhu tertentu, P. maydis di bawah suhu 24oC, P. philippinensis 21-26oC, P. sorghi 24-26oC, P. sacchari 20-25oC, S. rayssiae 20-22oC,S. graminicola 17-34oC, dan S. macrospora 24-28oC.
Tanaman Inang
Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari patogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa (oat), Digitaria spp. (jampang merah), Euchlaena spp. (jagung liar), Heteropogon contartus, Panicum spp.(millet, jewawut), Setaria spp.(pokem/seperti gandum), Saccharum spp.(tebu), Sorghum spp., Pennisetum spp.(rumput gajah), dan Zea mays (jagung).
Pengendalian
Oleh karena itu dalam pengembangan jagung di Indonesia, kewaspadaan terhadap penyakit bulai perlu mendapat perhatian serius dengan berpegang pada 5 komponen pengendalian yaitu : 1) Periode bebas tanaman jagung, 2). Tanam serempak, 3). Eradikasi tanaman terserang bulai, 4). Varietas tahan bulai, 5). Fungisida berbahan aktif metalaksil (Bisa menggunakan Demorf berbahan aktif Dimethomorp).
Komponen pengendalian penyakit bulai yang umum dilakukan selama ini adalah perlakuan benih dengan fungisida saromil atau ridomil yang berbahan aktif metalaksil, karena praktis dan mudah dilakukan, bahkan petani tidak perlu melakukan tindakan apapun, hanya menanam benih jagung yang sudah diberi perlakuan fungisida. Selain pengendalian dengan fungisida, varietas tahan bulai sebenarnya sudah lama diteliti, namun tidak banyak yang memanfaatkannya karena adanya fungisida barbahan aktif metalaksil yang selama ini efektif mengendalikan penyakit bulai melalui perlakukan biji.
Dalam penerapan varietas tahan bulai untuk pengendalian penyakit bulai, pemerintah Indonesia telah membuat aturan, dalam pelepasan varietas jagung harus memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai. Hal ini amat penting karena sekalipun telah dilepas, apabila tidak tahan bulai tidak akan tersebar luas karena bisa gagal panen akibat penyakit bulai yang telah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, dan juga baru-baru ini diketahui telah terjadinya resistensiP. maydis terhadap fungisida metalaksil di Kabupaten Bengkayang,
Terjadinya outbreak atau wabah penyakit bulai di beberapa daerah penghasil jagung seperti di Bengkayang (Kalbar), di Kediri dan Jombang (Jawa Timur), dan Medan (Sumatera Utara) yang sekalipun diberi perlakuan dengan fungisida berbahan aktif metalaksil, merupakan indikasi telah terjadinya perubahan ketahanan yang meningkat dari Peronosclerospora penyebab penyakit bulai. Adanya resistensi P. maydis terhadap metalaksil yang telah terbukti terjadi di Kalbar, merupakan ancaman bagi pengembangan jagung di Indonesia, hal ini disebabkan fungisida metalaksil tidak efektif lagi digunakan dalam pengendalian penyakit bulai. Oleh karenanya komponen pengendalian bulai lainnya perlu digalakkan.
Pengembangan varietas tahan bulai merupakan langkah yang perlu dilakukan untuk pengembangan tanaman jagung di Indonesia. Ketahanan terhadap penyakit bulai dipengaruhi oleh banyak gen (polygenic) dan bersifat aditif. Dengan varietas jagung tahan bulai petani akan lebih untung karena resiko gagal panen kecil dan biaya perawatan lebih murah karena penggunaan fungisida lebih sedikit.
B. Hama pada tanaman jagung
Belalang
(Locusta sp., dan Oxya chinensis) Belalang yang menyerang tanaman jagung ada
dua jenis, yaituLocusta sp., dan Oxya chinensis.
Seperti halnya ulat tanah, hama jenis ini menyerang tanaman jagung saat masih
muda, dengan cara memakan tunas jagung muda (baru tumbuh). Hama belalang pada
tanaman jagung merupakan hama migran, dimana tingkat kerusakannya tergantung
dari jumlah populasi serta tipe tanaman yang diserang.
Gejala Serangan:
Hama ini menyerang terutama di bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan tanaman jagung sekaligus sampai tulang–tulang daunnya.
Pengendalian hama belalang pada budidaya jagung secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.
Gejala Serangan:
Hama ini menyerang terutama di bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan tanaman jagung sekaligus sampai tulang–tulang daunnya.
Pengendalian hama belalang pada budidaya jagung secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
1. 1 Tanaman
jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari
keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan
Afrika.
keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan
Afrika.
2. Jagung
(Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia
3. agar
mengetahui hama dan penyakit pada tanaman jagung dan cara pengendaliannya.
4. gagal
panen akibat serangan hama dan penyakit harus ditangani secara tepat agar
mengurai kerugian.
DAFTAR
PUSTAKA
- (Wirawan dan wahab,
2007).
- (Subandi et al.,2004)
-
infohamapenyakittanaman.blogspot.com
- mahasiswa.ung.ac.id
- groupcbp.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar